Kepala Batan Bicara Energi Nuklir di Indonesia

Kompas.com - 30/06/2015, 09:45 WIB
Kepala Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto KOMPAS.com/Andri Donnal PuteraKepala Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto
|
EditorKistyarini
TANGERANG, KOMPAS.com — Kepala Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto mengungkapkan poin-poin yang menyebabkan energi nuklir belum terlalu berkembang di Indonesia.

Poin tersebut mencakup aspek psikologis masyarakat dan pengembangan teknologi dari segi investasi.

"Penerimaan masyarakat secara psikologis kalau nuklir itu pasti bayangannya bom. Terus investasi awal untuk energi nuklir memang lebih mahal. Selain itu, untuk bisa go nuklir, perlu waktu lama, tujuh sampai 10 tahun lagi," kata Djarot kepada Kompas.com di Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek), Serpong, Tangerang, Senin (29/6/2015).

Menurut Djarot, sebagian besar masyarakat Indonesia masih melihat nuklir dalam kacamata negatif. Masyarakat juga takut berada di tempat yang dekat dengan nuklir karena khawatir terpapar radiasi. Padahal, dengan sejumlah standar keselamatan, masyarakat bisa melihat nuklir dari jarak dekat.

Mengembangkan energi nuklir sendiri disebut harus berani investasi besar di awal. Namun, saat sudah berjalan, biaya operasionalnya dikatakan jauh lebih rendah dibanding dengan pemanfaatan energi yang lain.

Saat ini, Batan juga tengah mempersiapkan pre-project membuat program Reaktor Daya Eksperimen (RDE) sebagai cikal bakal pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X