Kompas.com - 23/06/2015, 15:30 WIB
Badai matahari kelas X yang terjadi pada Selasa (10/6/2014) pukul 20.42 WIB seperti dipotret kamera NASA. NASABadai matahari kelas X yang terjadi pada Selasa (10/6/2014) pukul 20.42 WIB seperti dipotret kamera NASA.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Aktivitas Matahari meningkat dalam beberapa hari terakhir. Senin (22/6/2015), bintang Tata Surya itu melontarkan partikel bermuatan menuju Bumi.

Lontaran partikel bermuatan atau yang sering disebut badai Matahari itu telah menghantam Bumi pada Selasa (23/6/2015) dini hari sekitar pukul 01.39 WIB.

Informasi pada situs Badan Administrasi Atmosfer dan Kelautan Amerika Serikat (NOAA) pada Selasa mengungkap bahwa badai itu mencapai level G-4.

Dengan level tersebut, badai Matahari kali ini menyamai peristiwa pada Maret 2015 lalu serta menjadi salah satu yang terkuat sejak September 2005.

Partikel bermuatan yang menumbuk lapisan magnetosfer Bumi bisa memicu keindahan sekaligus masalah besar.

Tumbukan partikel bermuatan dengan lapisan pelindung Bumi menyebabkan munculnya aurora yang akan bisa dilihat dari Amerika Utara dan Australia.

Sementara itu, gangguan komunikasi satelit dan elektronika juga bisa terjadi. Tahun 1989, listrik di wilayah Quebec di Kanada pernah padam berjam-jam akibat badai Matahari.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara badai Matahari kuat telah sampai ke Bumi, badai lain akan segera menyusul, diperkirakan sampai ke Bumi pada Kamis (25/6/2015) pukul 06.00 WIB.

Zona R-2 yang memicu munculnya badai Matahari yang sampai ke Bumi pada dini hari tadi kini aktif kembali.

Badai Matahari adalah fenomena biasa. Meski bisa memicu gangguan komunikasi, badai itu takkan mengakibatkan bencana, kepunahan massal, dan dampak besar buruk lainnya.




Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X