Kompas.com - 19/06/2015, 19:56 WIB
Ilustrasi bulan dengan awan debu yang menyelimutinya serta orbit wahana LADEE. Daniel Morgan/Jamey SzalayIlustrasi bulan dengan awan debu yang menyelimutinya serta orbit wahana LADEE.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Bulan kita diselimuti oleh awan. Awan itu bukan tersusun atas uap air seperti di bumi, melainkan terdiri dari debu. Awan itu juga tak kasatmata.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature pada Jumat (18/6/2015) mengungkap bahwa awan itu ternyata berasal dari debris komet.

"Hujan meteor Geminid memicu hujan meteor di bumi, tetapi hujan meteor itu takkan memicu fenomena yang sama di bulan," kata Mihaly Horanyi, fisikawan Universitas Colorado.

"Debris komet itu menghantam permukaan bulan dan meningkatkan densitas debu selama beberapa hari," imbuhnya seperti dikutip Los Angeles Times, Kamis.

Setiap hari, ada sekitar 100 ton debu kosmos yang menghantam permukaan bumi. Bulan, karena berukuran lebih kecil, hanya menerima 5 ton.

Namun, karena bulan tak memiliki udara, debris kosmos langsung menghantam permukaannya dan menyebabkan letupan-letupan kecil.

Horanyi menjelaskan, hantaman debris kosmos itu menyebabkan debu bulan terangkat hingga ketinggian 200 kilometer di atas permukaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Debu itu tetap bertahan melayang karena tak bisa "lari" dari gravitasi bulan, membentuk awan. Selanjutnya, debu itu jatuh lagi ke permukaan bulan.

Proses hantaman debris kosmos, naiknya debu, dan jatuh lagi itu berlangsung terus-menerus seperti halnya siklus air di bumi.

Dalam jangka panjang, proses itu bisa menghapus jejak astronot di permukaan bulan yang ditinggalkan dalam misi Apollo 11.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Emisi Gas Rumah Kaca Mencapai Tingkat Rekor Tahun Lalu, Apa Dampaknya?

Emisi Gas Rumah Kaca Mencapai Tingkat Rekor Tahun Lalu, Apa Dampaknya?

Fenomena
Kadal Berkembang Biak dengan 4 Cara Berbeda, Ini Penjelasannya

Kadal Berkembang Biak dengan 4 Cara Berbeda, Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Pertama Kalinya, Astronom Deteksi Planet di Luar Galaksi Bima Sakti

Pertama Kalinya, Astronom Deteksi Planet di Luar Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Serigala Jepang Kerabat Dekat Anjing Domestik, Studi Jelaskan

Serigala Jepang Kerabat Dekat Anjing Domestik, Studi Jelaskan

Fenomena
Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Kita
Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke Dalam Tubuh sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke Dalam Tubuh sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.