Kompas.com - 08/06/2015, 10:46 WIB
Penulis saat menghadiri World Psychiatric Association Regional Meeting 2015 di Osaka, Jepang. Dok pribadiPenulis saat menghadiri World Psychiatric Association Regional Meeting 2015 di Osaka, Jepang.
|
EditorLusia Kus Anna

Penanganan masalah somatoform juga biasanya tidak dengan obat-obatan tapi dengan psikoterapi. Jika diperlukan obat biasanya adalah masalah gangguan fisik yang didasari oleh gangguan cemas.

Kondisi ini tentunya memerlukan penanganan psikiater. Inilah kesenjangan yang timbul dalam praktek sehari-hari, kompetensi dokter umum untuk melakukan psikoterapi sangat kurang dan kemampuan tata laksana untuk masalah ganguan cemas juga tidak terlalu baik karena lebih sering mengandalkan obat golongan benzodiazepine saja.

Hal ini kemudian ditambah dengan dalam masa kepaniteraan klinik atau dikenal dengan masa koas. Mahasiswa kedokteran yang melakukan kerja praktek di bagian ilmu kedokteran jiwa atau psikiatri lebih sering melakukan kerja prakteknya di rumah sakit jiwa. Ini membuat kebanyakan mahasiswa juga lebih sering berhadapan dengan pasien rawat inap yang mengalami gangguan jiwa yang berat. Sedangkan kasus-kasus klinik yang dibarengi juga dengan masalah psikiatri amat jarang ditemukan.


Langkah ke depan

Peningkatan kompetensi dokter umum untuk menangani kasus psikiatrik secara paripurna perlu dipikirkan oleh para pembuat kebijakan yang berkaitan dengan kompetensi dokter umum. Negara-negara maju dalam pelayanan primernya dibantu banyak oleh seorang case manager yang bisa berasal dari seorang perawat jiwa atau dokter umum terlatih. Seorang case manager menjadi jembatan penghubung antara psikiater yang berada di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum dengan pasien yang berada di masyarakat.

Dalam presentasinya kemarin dan hari ini Prof Michelle Riba mengatakan betapa perlunya seorang case manager dan care manager dalam model pelayanan kesehatan jiwa modern.  Ke depannya dengan apa yang didapat pada kesempatan tadi bisa membuat arahan bagi perkembangan kesehatan jiwa di Indonesia.

Salah satu upaya adalah menambah keterampilan dan kepercayaan diri dokter umum untuk melayani pasien gangguan jiwa. Apalagi ke depan Kementerian Kesehatan kabarnya akan menambah kompetensi dokter di pelayan primer untuk bisa merawat pasien skizofrenia di rawat jalan dan juga menangani masalah gangguan kecemasan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Psikiater juga bisa diharapkan untuk ikut aktif mengedukasi dokter pelayanan primer untuk bisa mampu mengenali dan sedikit banyak memberikan pengobatan sesuai kompetensi yang ada.

Salam Sehat Jiwa.  

Dr.Andri, SpKJ FAPM, Psikiater dan Staf Pengajar di Fakultas Kedokteran UKRIDA, Jakarta.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.