"Drone" NASA Lepas Landas bak Helikopter, tetapi Terbang seperti Pesawat

Kompas.com - 05/05/2015, 19:24 WIB
Greased Lightning GL-10 NASA Langley/David C. BowmanGreased Lightning GL-10
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Pesawat dan helikopter punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Pesawat bisa bergerak cepat dan membawa banyak muatan, sementara helikopter bergerak lebih lambat, tetapi tidak butuh landasan pacu besar dan mampu bermanuver lebih baik.

Langley Research Center pada Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) baru-baru ini menguji coba sebuah drone berukuran 6 meter yang dikembangkannya, GL-10 Grased Lightning.

Drone itu unik karena setengah helikopter dan setengah pesawat. Dalam uji coba baru-baru ini, drone itu berhasil menunjukkan kemampuan lepas landasnya dengan gaya helikopter dan mengubah mode terbangnya menjadi "wing-borne" saat di udara.

GL-10 adalah kerabat dari V-22 Osprey, pesawat Vertical Take OFF and Landing (VTOL) yang dikembangkan oleh Angkatan Udara dan Laut Amerika Serikat tahun 1980-an. V-11 Osprey bisa lepas landas dari tengah hutan membawa hingga 9 ton dan sejauh 3.500 kilometer.

Ketangguhan V-22 Osprey kemudian menginspirasi pembuatan drone GL-10. NASA menginginkan agar drone tersebut juga punya kekuatan yang dimiliki V-22 Osprey dengan ukuran yang jauh lebih kecil.

NASA Rancangan GL-10 NASA

GL-10 punya empat motor pada masing-masing sayap dan dua motor lagi pada bagian ekor. Totalnya ialah 10 motor. NASA berharap, drone yang dikembangkannya ini bisa melayani beragam macam tugas.

"Ini bisa digunakan untuk mengirim paket kecil, penginderaan jangka panjang untuk pertanian, pemetaan, dan aplikasi lainnya," kata Bill Frederick, insinyur NASA yang terlibat pengembangan drone ini, dikutip Wired, Selasa (5/5/2015).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejauh ini, NASA telah membuat 12 prototipe GL-10, mulai yang berbahan gabus seberat 2 kilogram, berbahan fiberglass seberat 10 kilogram, hingga yang seberat 100 kilogram dari bahan serat karbon.

Sejumlah prototipe telah hancur lewat proses pengujian. Namun, pada saat yang sama, para insinyur semakin bisa belajar menyempurnakan rancangannya. Setelah uji coba pada April lalu, NASA akan kembali menguji coba efisiensi drone itu dalam waktu dekat.

Tim insinyur percaya drone itu empat kali lebih aerodinamis daripada helikopter. Belum jelas kapan NASA menargetkan penyelesaian proyek drone itu. Namun, penyempurnaan terus dilakukan. Prototipe yang terbaru sudah jauh lebih tidak berisik.




Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.