Penurunan Daya Ingat Lebih Cepat Terjadi Pada Pendengkur

Kompas.com - 05/05/2015, 09:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

Bagi orang lanjut usia, masalah mendengkur tak bisa diabaikan begitu saja. Sebuah studi yang baru dipublikasikan di Amerika, sebutkan bahwa warga senior yang menderita sleep apnea cenderung mengalami penurunan fungsi kognitif lebih cepat dibanding yang tidak mendengkur.

Tapi jangan salah sangka. Mendengkur tidak menyebabkan penyakit saraf degeneratif. Hanya saja pada lansia yang derita sleep apnea, penurunan mentalnya muncul di usia yang lebih muda.

Mendengkur merupakan tanda adanya gangguan nafas saat tidur bernama sleep apnea. Sleep apnea artinya henti nafas saat tidur. Dengkuran pada lanjut usia muncul karena semakin lembeknya saluran nafas atas. Saat tidur saluran nafas atas tersebut melemas dan akhirnya menutup, menyumbat aliran udara nafas.

Bayangkan saja ketika Anda meminum es kelapa dengan sedotan. Ketika sedotan tersumbat, sementara kita terus menyedot, sedotan jadi kolaps dan menyumbat. Demikian juga terjadinya sleep apnea pada orang lanjut usia.

Penelitian
Menurut penelitian yang diterbitkan pada jurnal kedokteran Neurology edisi April 2015, di antara penderita penyakit Alzheimer's  yang dengkurannya tidak dirawat kemampuan mental rata-rata mulai hilang di usia 77 tahun, dibandingkan dengan yang dirawat baru akan hilang di usia 90. Kehilangan kemampuan mental terjadi di usia yang lebih muda jika mendengkur dibiarkan.

Gangguan nafas pada usia lanjut amat umum ditemukan. Diperkirakan 53 persen pria lansia menderita sleep apnea, sedangkan pada wanita adalah 26 persen.

Penelitian ini melihat data 2,500 orang penderita Alzheimer's disease usia lanjut. Dari data tersebut didapatkan berapa orang yang terdiagnosa juga menderita sleep apnea dan berapa orang yang selanjutnya dirawat gangguan nafas tidurnya dengan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).

Didapati bahwa penderita Alzheimer's disease  yang tidak menggunakan CPAP akan mengalami penurunan memori di usia yang lebih muda.

Para peneliti menekankan bahwa penelitian ini tidak menunjukkan hubungan sebab akibat antara sleep apnea dan penurunan mental. Tetapi mereka menduga hubungannya terletak pada efek penurunan oksigen dan proses tidur yang terpotong.

Ketika mengalami henti nafas, penderita akan alami penurunan oksigen. Akibat sesak, ia akan terbangun tanpa terjaga. Pasien tak alami tidur yang restoratif. Pendengkur bangun dengan rasa kurang segar dan terus mengantuk di siang hari.

Hipersomnia, atau kantuk berlebihan di siang hari. Suatu gejala penyakit tidur yang diabaikan pada lansia. Semua dianggap karena faktor usia.

Bukti-bukti penelitian terus menggunung. Mendengkur telah diakui menyebabkan penyakit jantung, peningkatan tekanan darah, diabetes, stroke, disfungsi seksual hingga kematian. Kini penelitian ini menunjukkan arah baru perawatan sleep apnea, terutama pada kelompok usia lanjut. Sleep apnea tak bisa lagi diabaikan.

Para peneliti juga mengingatkan, ketika pasien datang memeriksakan diri ke dokter dengan keluhan daya ingat yang menurun, dokter harus mempertimbangkan sleep apnea sebagai salah satu penyebabnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X