Zona Mati Ditemukan di Perairan Atlantik Utara - Kompas.com

Zona Mati Ditemukan di Perairan Atlantik Utara

Kompas.com - 03/05/2015, 19:22 WIB
NASA/Earth Observatory Zona kematian ditemukan di perairan Atlantik Utara, berada di dalam eddy atau pusaran di pantai barat Afrika.

KOMPAS.com - Ilmuwan menemukan zona mati di perairan tropis Atlantik Utara. Ikan dan makhluk laut lainnya yang berada zona itu berpotensi mati.

Zona mati adalah wilayah lautan yang sangat miskin kandungan oksigen. Biasanya hanya sebagian mikroorganisme laut yang mampu hidup di area tersebut.

Secara ekonomi, adanya zona kematian bisa merugikan. Di Laut Baltik misalnya, tangkapan ikan berkurang akibat adanya zona kematian.

Zona mati di Atlantik Utara ini ditemukan oleh tim ilmuwan Jerman dan Kanada yang dipimpin Johannes Karstensen dari Helmholtz Center for Ocean Research di Kiel, Jerman.

"Sebelum studi, diduga konsentrasi terendah oksigen di Altantik Utara adalah 40 mikromol per liter atau satu mililiter oksigen terlarut per liter air laut," kata Karstensen.

Konsentrasi di tergolong rendah namun sebagian besar ikan masih bisa sintas pada dengan level oksigen itu.

Namun, survei terbaru menunjukkan, ada wilayah di Atlantik Utara, tepatnya barat Afrika, yang punya kandungan oksigen 20 kali lebih rendah dari dugaan semula.

Wilayah itu kemudian disebut zona mati sebab dengan level oksigen yang begitu rendah, makhluk makro takkan mungkin bisa sintas.

Zona mati bisa terbentuk dengan beberapa cara. Zat kimia bisa terbawa ke lautan dan memicu blooming alga atau ganggang. Ketika mati, alga akan tenggelam ke dasar laut.

Alga mati akan diuraikan oleh bakteri. Dalam penguraian, bakteri membutuhkan oksigen. Area dengan jumlah alga banyak biasanya akan menjadi zona kematian.

Zona mati di Atlantik Utara ini terbentuk dengan cara berbeda, yaitu karena adanya eddy atau massa air yang bergerak memutar di tengah lautan.

Eddy berbentuk menyerupai silinder dengan diameter hingga 100 - 150 kilometer dan tinggi beberapa ratus meter.

"Rotasi eddy yang cepat mempersulit pertukaran oksigen antara air dalam putaran serta area sekitarnya," kata Karstensen.

"Sirkulasi akan membentuk lapisan sangat dangkal, beberapa puluh meter di bagian atas putaran air yang memungkinkan pertumbuhan tanaman secara intens," imbuhnya..

"Berdasarkan pengukuran kami, diperkirakan konsumsi oksigen dalam eddy lima kali lebih besar," terang Karstensen seperti dikutip Nature World News, Jumat (1/5/2015).

Mengukur kandungan oksigen di dalam eddy itu, Karstensen menemukan bahwa konsentrasi gas kehidupan itu hanya 0,3 mililiter per liter air laut.

Sementara, konsentrasi oksigen di luar eddy mencapai 100 kali lebih besar. Kandungan oksigen dalam eddy dengan demikian sangat rendah.

Yang mengkhawatirkan, zona mati ini bisa bergerak ke arah pantai. Ikan dan makhluk laut lain dalam jumlah besar bisa terbunuh.

Fenomena zona mati harus diantisipasi. Karstensen dan rekan memublikasikan hasil risetnya di jurnal Biogeosciences pada Kamis (30/4/2015).



EditorYunanto Wiji Utomo

Close Ads X