Jangan Salah Pahami Obat Penenang

Kompas.com - 28/04/2015, 14:00 WIB
Shutterstock Ilustrasi

Beberapa waktu yang lalu di salah satu media ditampilkan tentang penggunaan obat penenang oleh remaja yang sayangnya menggunakan obat ini untuk mabuk.

Penyalahgunaan obat penenang memang sering dibicarakan oleh awam. Hal itu yang kadang membuat beberapa orang khawatir ke psikiater yang dianggap suka memberikan obat jenis ini.

Untuk lebih melihat masalah ini secara menyeluruh, coba kita lihat kenyataan di praktek sehari-hari seperti yang saya tuliskan di bawah ini.

Obat Penenang = Narkoba?

Sebagai seorang psikiater, dalam praktek saya sehari-hari akrab dengan obat-obatan penenang. Obat penenang sering dikaitkan dengan suatu obat yang mempunyai fungsi menenangkan sistem saraf pusat. Tidak heran banyak orang awam selalu menyebutkan bahwa semua obat yang diberikan oleh psikiater alias dokter jiwa adalah obat penenang.

Padahal dulunya saja obat ini dibagi menjadi dua tipe yaitu Minor Tranquilizer yang mana merujuk pada obat-obat penenang golongan benzodiazepine yang biasanya digunakan sebagai anticemas.

Tipe kedua Major Tranquilizer yang merujuk pada obat-obat antipsikotik tipikal seperti Haloperidol dan Trifluoperazine yang biasanya digunakan sebagai antipsikotik untuk pasien gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Jadi yang dimaksud dengan obat penenang itu tidak selalu sama.

Obat penenang juga sering dikaitkan dengan narkoba. Padahal sebenarnya obat penenang yang diresepkan oleh psikiater kebanyakan dikategorikan sebagai obat golongan Psikotropika golongan IV. Itupun yang dimaksud adalah benzodiazepine. Sedangkan antidepresan dan antipsikotik sebenarnya dalam UU tidak dimasukkan sebagai obat psikotropika atau narkotika.

Penyalahgunaan

Obat penenang yang dikenal di masyarakat yang merujuk pada suatu obat anticemas golongan benzodiazepine adalah obat yang bisa diresepkan dalam praktek sehari-hari. Pasien gangguan cemas, gangguan depresi dan psikotik banyak yang mendapatkan manfaat dari obat-obat ini.

Pada penggunaan yang tepat dan baik, obat ini sangat bermanfaat untuk pasien-pasien apalagi di awal terapi. Pada kasus-kasus untuk jangka panjang tentunya pemberian obat ini harus dilakukan dalam pengawasan psikiater.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


EditorLusia Kus Anna
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X