Kompas.com - 25/04/2015, 14:00 WIB
Ikan salmon ShutterstockIkan salmon
|
EditorLusia Kus Anna

Saat ini kanker usus besar atau kolorektal di Amerika sudah menjadi salah satu tiga besar penyebab kanker terbanyak dan menjadi  penyebab kedua kematian karena kanker.  

Diet tinggi serat untuk mencegah terjadinya kanker kolorektal merupakan salah satu hal yang harusnya bisa dilakukan. Peran awal penelitian serat untuk kesehatanpun dibuktikan dengan adanya angka kejadian kanker kolorektal yang lebih tinggi pada orang white African yang lebih banyak mengonsumsi daging dan kurang serat dibandingkan pada kelompok black African yang mempunyai angka kejadian yang lebih rendah karena lebih banyak mengosumsi serat lebih banyak.  

Adanya  berbedaan kasus kolorektal pada kedua kelompok tersebut membuktikan bahwa serat mempunyai peran untuk terjadinya kanker kolorektal.

Gejala utama yang harus menjadi perhatian terjadinya kanker kolorektal adalah adanya buang air besar berdarah, diare kronis (diare yang lebih dari 2 minggu), susah buang air besar (sembelit), nyeri perut dengan sebab yang tidak jelas, atau ditemukan adanya benjolan atau tumor pada perut.

Selain gejala utama tersebut, pasien dengan kanker kolorektal juga dapat mengalami penurunan berat badan serta penurunan nafsu makan. Penelitian yang dilakukan di
Pusat Endoskopi Saluran Cerna  RSCM  dengan melihat pasien yang menjalani  kolonoskopi selama 2 tahun dari tahun 2013-2014 mendapatkan bahwa 1.290 pasien yang dilakukan kolonoskopi dengan indikasi karena  BAB berdarah, didapat 7,4 disebabkan oleh polip dan 6 persen karena tumor kolorektal. Sedang pada pasien dengan indikasi susah BAB (sembelit) 8,3 persen ditemukan polip sedang 4,6 persen ditemukan tumor kolorektal.

Kepastian seseorang mengalami kanker  kolorektal dengan pemeriksaan kolonoskpi  dilanjutkan pengambilan sampel jaringan biopsi untuk menemukan adanya sel-sel kanker.

Diet vegetarian

Salah satu artikel mutakhir yang mempublikasi seputar peran serat muncul pada JAMA  Internal Medicine salah satu jurnal ternama dari Amerika pada awal Maret 2015.
Penelitian yang dilaporkan tersebut merupakan bagian dari penelitian The Adventist Health Study 2 (AHS-2), suatu penelitian besar dilakukan pada penduduk Amerika yang dilakukan secara kohort atau populasi diikuti untuk waktu tertentu. Penelitian ini melibatkan hampir 80.000 orang dewasa.

Dari 80.000 orang tersebut dibagi menjadi 5 kelompok sesuai dengan diet sehari-hari: vegan/vegetarian murni (8 % dari populasi), lacto-ovo-vegatarian atau tidak mengonsumsi daging merah dan putih tapi menkonsumsi telur dan susu (29 %), pesco-vegetarian/tidak mengonsumsi daging merah tapi masih mengosumsi daging putih (ikan atau ayam)  (10%), semi vegetarian/ makanan utama sayur-sayuran dan kacang-kacangan sekali-kali masih mengosumsi daging (6%) dan non vegetarian (48%).  

Selanjutnya pada populasi dengan 5 kelompok diet ini dilakukan follow up selama 7 tahun. Dalam perjalanan 7 tahun tersebut ternyata para peneliti mencatat dari 80.000 kasus tersebut terjadi 490 kasus  dengan kanker kolorektal artinya dari ditemukan 8-9  kasus kanker kolorektal/tahun dari 10.000 penduduk.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Oh Begitu
Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Oh Begitu
BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

Fenomena
5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

Oh Begitu
Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Oh Begitu
Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Fenomena
Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Fenomena
Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Kita
Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Fenomena
11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

Fenomena
Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Oh Begitu
Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Oh Begitu
Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Oh Begitu
Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Fenomena
Jangan Lewatkan Makan Sahur Sebelum Puasa, Ini Alasannya

Jangan Lewatkan Makan Sahur Sebelum Puasa, Ini Alasannya

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X