Kompas.com - 24/04/2015, 20:08 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com
- Uji coba terapi gen pada tujuh anak yang menderita sindrom Wiskott-Aldrich berhasil. Enam dari tujuh anak berhasil disembuhkan sementara satu lainnya meninggal oleh sebab resistensi herpes.

Sindrom Wiskott-Aldrich adalah penyakit langka yang menimpa 10 bayi dari 1 juta kelahiran. Para penderita penyakit ini mudah terluka namun sulit sembuh, rentan terhadap berbagai infeksi termasuk pneumonia dan autoimun.

Penyebab penyakit kekebalan tubuh tersebut adalah mutasi pada gen yang membawa kode untuk pembentukan protein WAS. Mutasi pada gen yang membentuk protein itu menghambat pembentukan keping-keping darah sehingga pembekuan darah berlangsung lambat.

Selama ini, satu-satunya alternatif pengobatan sidnrom Wiskott-Aldrich adalah cangkok sumsum tulang belakang. Namun, pencangkokan sendiri sulit sebab harus menemukan donor yang benar-benar cocok.

Mengatasi keterbatasan itu, Salima Hacein Bey Abina dari Necker Children Hospital berupaya melakukan terapi gen. Dia merekrut 12 anak penderita sindrom Wiskott-Aldrich dari Inggris dan Perancis untuk ujicoba. Tentu, ini dengan persetujuan orang tua pasien.

Dalam terapi itu, Abina dan rekannya mengambil sumsum tulang belakang dan memurnikannya untuk mendapatkan sel yang memengaruhi sistem kekebalan. Begitu didapatkan, dia kemudian menyisipkan gen HIV yang telah "dijinakkan".

Sel yang telah disisipi gen HIV itu dicangkokkan kembali ke sumsum tulang belakang sehingga bisa berkembang. Efek terapi yang dilakukan antara tahun 2012 - 2014 itu lalu dilihat selama beberapa bulan.

Hasilnya, seperti dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association pada Selasa (21/4/2015), semua anak dalam keadaan sehat setelah terapi dan kondisinya semakin membaik.

Eczema, masalah pada kulit, dan kerentanan infeksi membaik pada 6 pasien. Tak ada insiden pendarahan pada seluruh pasien setelah infeksi. Sementara, autoimun juga membaik pada 5 pasien.

Salah satu pasien yang tertolong berkat terapi gen ini adalah Daniel Wheeler, remaja berusia 15 tahun dari Bristol. Sebelumnya, kakaknya meninggal karena penyakit yang sama. Kini, dia bisa lebih lega berkat terapi gen.

Adrien Trasher dari Great Ormond Street Hospital di London seperti dikutip BBC, Selasa, mengatakan, "Saya pikir ini sangat signifikan. Ini pembuktian yang jelas bahwa pendekatan terapi gen efektif."

Namun, Ian Alexander dari Gene Therapy Research Unit di Children Medical Research Institute di Sydney, Australia, mengatakan bahwa ini masih awal dari terapi gen. "Terapi gen masih pada fase bayi dan banyak hal yang dijanjikan belum terealisasi," katanya.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.