Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/04/2015, 20:04 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Bagi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, seharusnya hari ini diperingati dengan sukacita. Namun, dengan kerusakan alam yang terjadi, Indonesia justru harus menangis.

Ambil contoh pada apa yang terjadi dengan hutan. Indonesia semula merupakan negara yang memiliki hutan hujan tropis terluas di dunia. Kini, luasan hutan terus menyusut akibat deforestasi.

Data Global Forest watch dan Forest Watch Indonesia mengungkap bahwa sepanjang tahun 2009 hingga 2013 saja, Indonesia kehilangan hutan seluas 4,6 juta hektar. Itu berarti, setiap menit, Indonesia kehilangan hutan seluas tiga kali lapangan sepak bola.

Data Forest Watch Indonesia mengungkapkan, luas wilayah hutan Indonesia pada tahun 1950 diperkirakan 193 juta hektar. Tahun 2009, luas hutan Indonesia berkurang lebih dari setengahnya, menjadi cuma sekitar 88 juta hektar. Lalu, tahun 2013, jumlahnya tinggal sekitar 82 juta hektar.

Deforestasi berakibat buruk. Kebakaran hutan di Riau pada tahun 2013 yang dipicu oleh ekspansi kelapa sawit mengakibatkan kerugian 1,7 triliun dollar AS. Deforestasi membuat Orang Rimba mengalami krisis, 14 orang meninggal dalam tiga bulan terakhir.

Indonesia memulai moratorium hutan untuk menghentikan sementara penerbitan izin kehutanan pada tahun 2011. Namun, studi yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciencesmenyatakan, moratorium tak efektif. Jutaan hektar hutan rusak selama moratorium.

Kondisi menyedihkan juga bisa dilihat di lahan gambut, salah satu wilayah yang menyimpan banyak stok karbon. Banyak lahan gambut kini rusak. Kubah gambut rusak karena dipakai untuk area perkebunan.

Penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR)mengungkap fakta menyedihkan. Akumulasi karbon di wilayah gambut Indonesia membutuhkan waktu hingga 11.000 tahun, sementara pelepasan karbonnya berlangsung sangat cepat.

Dari 3.300 ton karbon yang tersimpan di lahan gambut, setengahnya akan hilang dalam 100 tahun terakhir akibat konversi gambut menjadi lahan kelapa sawit. Jumlah karbon yang hilang setara dengan jumlah karbon yang terakumulasi selama 2.800 tahun.

Bila pelepasan karbon di lahan gambut terus terjadi, emisi karbon Indonesia akan tinggi. Indonesia akan gagal memenuhi target penurunan emisi karbon 26 persen pada tahun 2020 seperti dijanjikan oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Proyek Manhattan, Oppenheimer, dan Bom Atom (Bagian 1)

Proyek Manhattan, Oppenheimer, dan Bom Atom (Bagian 1)

Oh Begitu
Apakah Ada Bintang Gelap di Alam Semesta?

Apakah Ada Bintang Gelap di Alam Semesta?

Fenomena
Mengapa Uranium Sangat Penting untuk Bahan Bakar Nuklir?

Mengapa Uranium Sangat Penting untuk Bahan Bakar Nuklir?

Oh Begitu
Apa Manfaat Minum Air Putih Sebelum Tidur?

Apa Manfaat Minum Air Putih Sebelum Tidur?

Oh Begitu
Apa Itu Meteorit?

Apa Itu Meteorit?

Oh Begitu
Apakah Kol Ungu Lebih Sehat Dibandingkan Kol Hijau?

Apakah Kol Ungu Lebih Sehat Dibandingkan Kol Hijau?

Oh Begitu
5 Kebiasaan Buruk di Pagi Hari yang Mengganggu Kesehatan

5 Kebiasaan Buruk di Pagi Hari yang Mengganggu Kesehatan

Kita
Fakta-fakta Menarik Kucing Purba Bertaring Pedang

Fakta-fakta Menarik Kucing Purba Bertaring Pedang

Fenomena
Benarkah Ada Dinosaurus yang Belum Punah?

Benarkah Ada Dinosaurus yang Belum Punah?

Oh Begitu
Mengapa Hiroshima dan Nagasaki Bisa Dihuni, sedangkan Chernobyl Tidak Bisa?

Mengapa Hiroshima dan Nagasaki Bisa Dihuni, sedangkan Chernobyl Tidak Bisa?

Oh Begitu
Benarkah Air Samudra Pasifik dan Atlantik Tidak Bisa Menyatu?

Benarkah Air Samudra Pasifik dan Atlantik Tidak Bisa Menyatu?

Oh Begitu
Kenapa Banyak Orang yang Suka Mencium Aroma Bayi?

Kenapa Banyak Orang yang Suka Mencium Aroma Bayi?

Oh Begitu
5 Manfaat Minum Air Putih di Pagi Hari

5 Manfaat Minum Air Putih di Pagi Hari

Oh Begitu
Apa Itu Ledakan Kambrium?

Apa Itu Ledakan Kambrium?

Fenomena
Mengapa Beberapa Orang Berkeringat Lebih Banyak dari yang Lain?

Mengapa Beberapa Orang Berkeringat Lebih Banyak dari yang Lain?

Kita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com