Apa Penyebab Fenomena "Ketindihan" atau Lumpuh Saat Tidur?

Kompas.com - 22/04/2015, 12:45 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com — Setiap orang pasti pernah mengalami fenomena "ketindihan" satu atau dua kali dalam hidupnya. Ketika ini terjadi, kita akan merasa tidak bisa bergerak, berteriak, apalagi terbangun. Panik pun menyerang karena seolah akan mati.

Biasanya orang menghubungkan fenomena "ketindihan" dengan sesuatu yang mistis atau adanya makhluk halus. Padahal, penyebabnya tidak berhubungan sama sekali dengan sesuatu yang mistis.

Dalam bahasa medis, "ketindihan" atau "dierep-erep", disebut dengan sleep paralysis atau lumpuh saat tidur.

"Penyebabnya sebenarnya akibat kita kurang tidur secara ekstrem," kata dr Andreas Prasadja, RPSGT, spesialis tidur.

Ia menjelaskan, tahapan tidur yang normal terdiri dari tidur ringan, sedang, dalam, dan tidur mimpi. Tahapan tidur mimpi (REM) ini adalah yang terpenting bagi otak manusia.

"Kalau kurang tidur, misalnya 2-3 hari begadang, maka malam berikutnya kita akan tidur panjang. Ini adalah mekanisme tubuh untuk memenuhi kebutuhan tidur. Istilahnya adalah REM rebound," paparnya.

Nah, ketika kurang tidur secara ekstrem, kita bisa saja langsung masuk ke tahap tidur mimpi. Dalam tahapan tidur ini, otot-otot berada dalam kondisi yang sangat lemah. Ini adalah mekanisme alami supaya badan kita tidak bergerak-gerak mengikuti mimpi.

Ada dua hal khas yang biasanya terjadi akibat kita langsung masuk ke tahap REM, yakni halusinasi dan "ketindihan".

"Kalau ekstrem sekali kurang tidurnya, akan terjadi tumpang tindih gelombang otak terjaga dan mimpi. Jadi, setengah sadar dan setengah mimpi. Karena setengah sadar, biasanya akan terjadi halusinasi," katanya.

Jenis halusinasinya berbeda-beda sesuai dengan budaya. Namun, menurut Andreas, hampir semuanya melihat sosok lain di kamar. "Kalau masyarakat kita biasanya melihat sosok hitam atau hantu, tetapi kalau di budaya Barat ada yang melihat alien, dan sebagainya," katanya.

Hal khas lainnya adalah "ketindihan". Saat kita setengah tidur dan setengah mimpi, otak sebenarnya sudah keluar dari fase REM, tetapi tubuh masih seperti lumpuh.

Kita tidak bisa menggerakkan tubuh, bahkan untuk sekadar berteriak. Kondisi ini tentu menimbulkan rasa panik. Ditambah lagi, kita berhalusinasi melihat sosok lain di kamar tidur, yang kita kira sebagai hantu.

Meski demikian, lumpuh saat tidur tidak membahayakan nyawa. "Kalau hanya terjadi sekali-sekali, luangkan waktu yang cukup untuk tidur," kata Andreas.

Namun, jika lumpuh saat tidur sering dialami, ia menyarankan agar kita memeriksakan diri ke dokter. "Ini bisa menandakan kurang tidur parah. Padahal, fase tidur REM itu sangat penting manfaatnya untuk otak, baik untuk kecerdasan, mental, maupun emosional," ujarnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X