Kompas.com - 17/04/2015, 18:41 WIB
Rena (kiri) dan Danka Kornreich (kanan). Gelissen family via National GeographicRena (kiri) dan Danka Kornreich (kanan).
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — "Kamu akan bertahan hidup, sedangkan aku, sepertinya aku tidak akan bertahan. Aku akan mati di kamar gas. Aku takut."

Bayangkan kata-kata itu keluar dari mulut adik kandung Anda sendiri.

Sahabat yang memiliki adik kandung, baik perempuan maupun laki-laki, pasti pernah merasakan bagaimana susahnya menjaga, menghibur, melindungi mereka dari bahaya, dan bagaimana menjadi sosok yang dapat menjadi teladan bagi mereka.

Bayangkan melakukan semua itu sekaligus di lingkungan kamp konsentrasi Nazi.

Getir, itulah yang dirasakan Rena Kornreich, gadis Yahudi asal Polandia berusia 17 tahun, yang terdaftar sebagai "sukarelawan" pembantu di kamp konsentrasi Aushwitz, area kamp konsentrasi Nazi di Polandia, setelah mendengar ucapan putus asa adiknya.

Pada 1942 di Poprad, Slowakia, tepatnya tanggal 26 Maret, Rena Kornreich turun dari sebuah kereta yang membawa sebanyak 998 perempuan ke Aushwitz. Dua hari setelahnya, Danka, adik kandung Rena, juga tiba. Sejak saat itu, kehidupan penuh teror mereka dimulai.

Rena bersama Danka tinggal di sebuah desa kecil bernama Desa Tylicz, yang letaknya di perbatasan antara Polandia dan Slowakia. Di sana, kaum Yahudi dan Gentile hidup berdampingan dengan rukun. Di lingkungan asalnya itu, Rena ditangkap dan dibawa ke Slowakia. Ia diselamatkan oleh suatu keluarga baik hati yang berani mengambil risiko untuk menyembunyikan Rena di rumah mereka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tidak ingin membahayakan keluarga asuhnya, Rena mendaftar sebagai sukarelawan untuk bekerja di kamp pekerja—yang tentunya nama samaran untuk kamp kematian.

Di sanalah tugasnya menjaga sang adik dari bahaya yang bukan lagi mengancam kesehatan, melainkan juga nyawa sang adik dari kekejaman Nazi di kamp tersebut.

Suatu hari diceritakan, Rena melakukan satu pelanggaran yang membuatnya mendapat hukuman berupa pukulan bertubi-tubi oleh petugas. Sang petugas kemudian menyatukan Rena ke dalam antrean wanita yang akan dimasukkan ke dalam kamar gas.

Saat itu, seorang wanita pelayan bernama Kapo Emma menyamar menjadi petugas penjaga kamar gas dan berakting mengusir Rena dari antrean. Ia menukar nyawa Rena dengan nyawanya sendiri.

Tiga tahun berada di kamp konsentrasi Nazi mengasah kemampuan menalar bahaya Rena. Ia bisa menerka kapan dan di mana bahaya akan menjemput ia dan adiknya.

Suatu ketika, keduanya dipilih untuk masuk antrean penugasan kerja oleh Dr Mengele. Mengharap penugasan itu akan meringankan beban kerja mereka, Rena malah mendapati bahwa antrean tersebut adalah untuk eksperimen sterilisasi (Holocaust). Ia lalu mengajak adiknya kabur keluar dari antrean dan mereka sekali lagi lolos dari maut.



Sumber
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.