Kompas.com - 11/04/2015, 15:09 WIB
Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas beristirahat di punggungan menuju posko empat jalur Doropeti ke arah puncak Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, Juni silam. Kompas/Agus Susanto Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas beristirahat di punggungan menuju posko empat jalur Doropeti ke arah puncak Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, Juni silam.
EditorNi Luh Made Pertiwi F
Oleh: Rusdi Amral

Peringatan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, pada April 2015 ini merupakan momentum untuk memajukan dunia pariwisata serta ilmu pengetahuan di Indonesia.

Gunung berapi yang meletus tahun 1815 itu memiliki catatan sejarah yang panjang di Tanah Air dan dunia internasional. Tak hanya mengubur tiga kerajaan di sekitarnya dengan menelan korban sekitar 91.000 jiwa, dampak letusannya merambah hingga Benua Eropa.

Setahun setelah Gunung Tambora meletus, Eropa mengalami kegelapan panjang akibat tertutup lapisan partikel letusan Tambora. Perubahan iklim yang terkenal dengan "the years without summer" itu mengakibatkan kegagalan panen berkepanjangan, serta memunculkan wabah penyakit yang menakutkan. Akibat kegagalan panen itu juga Napoleon kalah perang di Eropa.

Letusan Gunung Tambora saat itu benar-benar mengguncang dunia. Tidak hanya dampaknya yang luas bagi kehidupan manusia, letusan ini juga memancing para ahli gunung berapi dan antropologi di belahan dunia untuk meneliti keagungan Gunung Tambora.

Berbagai artefak bekas kerajaan juga ditemukan di sekitar Gunung Tambora. Banyaknya temuan artefak sisa permukiman di Gunung Tambora membuat para ahli menyebut kawasan ini sebagai Pompeii dari Timur. Pompeii adalah sebuah desa yang hilang terkubur material letusan Gunung Vesuvius di Pompeii, Italia, pada 79 Masehi.

Upaya Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk mempromosikan kawasan Gunung Tambora mendapatkan momentumnya. Perayaan Tambora Menyapa Dunia merupakan kampanye atas kedahsyatan Gunung Tambora. Tidak hanya nilai sejarah, peristiwa ini juga melahirkan budaya dan ilmu pengetahuan yang menarik perhatian.

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Para peserta lomba lari Trans-Sumbawa 200 dalam rangkaian Tambora Challenge 2015 melintasi pesisir Poto Tano, Sumbawa, NTB, Rabu (8/4). Lomba lari yang diikuti 8 peserta dengan 25 pelari pendamping ini dilepas dari Poto Tano dan finis di Doro Ncanga yang berjarak sekitar 320 kilometer.
Sudah saatnya keagungan Gunung Tambora dipromosikan ke mancanegara. Tidak hanya pusat ilmu pengetahuan, Gunung Tambora dengan padang savananya yang sangat luas menjadi daya tarik yang luar biasa. Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan agar Gunung Tambora menjadi sangat menarik bagi wisatawan Nusantara ataupun mancanegara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dibutuhkan infrastruktur yang memadai serta biaya yang terjangkau untuk dapat mencapai kawasan Gunung Tambora. Untuk itu, terobosan dari pemerintah pusat dan daerah sangat dinantikan agar kawasan wisata ini menjadi mudah dan murah dijangkau oleh masyarakat luas dan mancanegara.

Kita berharap, selain Bali dan Batam, geliat pariwisata juga mengalir ke NTB yang memiliki keunggulan komparatif dekat dengan Bali. Tentu saja, tidak hanya sekadar datang di provinsi ini, tetapi bisa tinggal lama di kawasan wisata ini. Apabila pemerintah serius mengerjakan pekerjaan rumahnya, target dua juta wisatawan ke daerah ini bukan mustahil terwujud.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.