Kompas.com - 10/04/2015, 17:53 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Di belahan utara, salju biasanya turun antara bulan Desember hingga Maret. Namun akibat letusan dahsyat Tambora 1815 lalu, salju pernah turun pada bulan Juni 1816.

Salju pada bulan musim panas itu adalah satu diantara sekian dampak salah satu letusan gunung terbesar sepanjang masa tersebut. Aerosol dan sulfat yang disemburkan Tambora ke atmosfer memicu pendinginan global.

Catatan Chester Dewey, profesor matematika dan ilmu alam di William College Massachusetts menyatakan, "kebekuan jarang terjadi pada musim panas, namun  kali ini di mana-mana beku."

Catatan Dewey yang dikutip dalam publikasi Clive Oppenheimer di jurnal Progess in Physical Geology tahun 2003 tersebut menggambarkan kondisi cuaca pada 1816, tahun yang sering dijuluki tanpa musim panas.

"Tanggal 6 Juni suhu 44 derajat sepanjang hari dan beberapa kali turun salju. 7 Juni tidak begitu beku namun tanah begiru dingin dan air beku di mana-mana," catatnya lagi.

Bukan hanya wilayah Massachusetts, pada 6 Juni 1816, salju turun di sejumlah wilayah Amerika Utara, termasuk jantung dunia New York, kemudian Albany, Maine, dan Dennysville. Di Quebec, Kanada, salju terakumulasi hingga ketebalan 30 cm dari 6-10 Juni 1816.

Cuaca dingin terjadi pula di Amerika Utara bagian selatan, meliputi Trenton, New Jersey, dan lainnya. Kondisi itu bertahan tiga bulan hingga panen pun gagal.

KR Briffa dan PD Jones melakukan analisis lingkaran pohon untuk menguak cuaca setahun setelah letusan Tambora di Eropa. Dalam publikasinya di jurnal Nature tahun 1992, dia menemukan bahwa musim panas tahun 1992 memang luar biasa dingin, terdingin sejak 1750.

Suhu musim panas di Eropa 1-2 derajat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1810-1819 dan 3 derakjat Celsius lebih dingin dari rata-rata tahun 1951-1970.

Tahun 1998, Briffa kembali memublikasikan makalah di Nature tentang efek Tambora pada pendinginan global. Ia menyatakan, Tambora menciptakan salah satu musim panas terdingin dalam 6 abad, kedua terdingin setelah tahun 1601 akibat letusan Huaynaputina di Peru.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kita
Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Oh Begitu
Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.