Kompas.com - 09/04/2015, 18:22 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo
Oleh Ahmad Arif

KOMPAS.com -  April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, meletus hebat. Dunia Barat didera ”tahun tanpa musim panas” setahun setelah itu. Belakangan, mereka mengenal Tambora sebagai, ”...penyebab krisis kemanusiaan terbesar pada era modern” (Clive Oppenheimer, 2003). Tahun-tahun setelah letusan itu juga dikenal di Barat sebagai ”Eighteen Hundred and Froze to Death” (Erik Conway, 2009).

Kegagalan panen dan wabah penyakit menular seperti tipus, disentri, hingga kolera, yang kemudian melanda dunia, menempatkan Tambora sebagai pembunuh global. Di Nusantara, dampak letusan melenyapkan dua kerajaan di lerengnya, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat, serta menghancurkan Kerajaan Sanggar. Kehancuran dan kematian massal juga melanda Lombok dan Bali hingga bertahun-tahun kemudian.

Jika kehancuran di sekitar Tambora disebabkan terpaan awan panas, kematian massal berskala global justru disebabkan pendinginan Bumi pasca letusan. Total penurunan suhu Bumi mencapai 0,4–0,7 derajat celsius (Richard B Stother, 1984), tetapi di beberapa tempat lebih tinggi, seperti di New England dan Selat Inggris yang turun hingga 2,5 derajat celsius (Sigurdsson, 2000). Dampaknya adalah kegagalan panen global.

Pemanasan dan pendinginan

Menurut Sigurdsson (2000), Benjamin Franklin kemungkinan adalah orang pertama yang menghubungkan letusan gunung api dengan anomali cuaca, ketika tahun 1784 dia menemukan ”kabut basah” dan musim dingin tak biasa yang melanda Eropa. Franklin berspekulasi bahwa kabut itulah yang mendinginkan musim panas, berasal dari asap tabrakan meteor atau letusan gunung api di Iceland (Gunung Laki meletus pada 1783).

Hipotesis itu terkonfirmasi ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus tahun 1883 dan menciptakan perubahan cuaca global. Saat itu dunia telah terhubung oleh teknologi telegraf sehingga kabar letusannya mendunia dalam waktu singkat. Orang dengan cepat bisa menghubungkan langit jingga dan anomali cuaca di berbagai belahan dunia dengan letusan Krakatau.

Sebaliknya, letusan Tambora pada 1815 nyaris tak diketahui masyarakat Barat. Selama lebih dari seratus tahun, mereka tidak tahu penyebab ”tahun tanpa musim panas” pada 1816.

Baru pada tahun 1920-an, WJ Humphreys, peneliti di kantor meteorologi AS, menemukan hubungan antara cuaca buruk pada 1816 dan letusan Tambora. Dia berteori, abu yang terlontar telah menghalangi sinar matahari ke Bumi. Teori itu belakangan dibantah ahli lain yang menyatakan bahwa pendinginan bumi tersebut disebabkan aerosol asam sulfat dari Tambora.

Setelah itu, pada 1960-an, ahli meteorologi Hubert Lamb membuat indeks yang membandingkan jumlah semburan partikel gunung api saat meletus sehingga dampak letusan terhadap iklim bisa diukur. Erupsi Krakatau pada 1883 berada di indeks 1.000. Letusan Tambora memiliki skor tertinggi, 4.200.

Kini, para ilmuwan mengetahui, gunung api berpengaruh terhadap perubahan iklim global dalam dua cara; memanaskan sekaligus mendinginkan. Karbon dioksida yang rutin dikeluarkan gunung api dalam aktivitasnya menyumbang gas rumah kaca sehingga berpotensi menyebabkan pemanasan global. Namun, menurut hitungan Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), sumbangan emisi karbon seluruh gunung api dunia relatif kecil, hanya 0,26 giga ton per tahun, dibandingkan dengan emisi dari faktor antropogenik yang 35 giga ton per tahun.

Gunung api lebih signifikan mendinginkan Bumi. Selama letusan besar, sejumlah gas, aerosol, dan abu dilontarkan ke stratosfer. Abu yang dilontarkan akan cepat jatuh sehingga tidak berdampak pada perubahan iklim. Namun, gas-gas vulkanik, seperti sulfur dioksida, mampu memantulkan sinar matahari sehingga berdampak pada pendinginan Bumi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kita
Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.