Kompas.com - 06/04/2015, 12:54 WIB
Orang Rimba ddi wilayah Bukit Subang, perbatasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi bersama rumah sederhananya yang disebut Rumah Godong. Yunanto Wiji UtomoOrang Rimba ddi wilayah Bukit Subang, perbatasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi bersama rumah sederhananya yang disebut Rumah Godong.
EditorYunanto Wiji Utomo

Program konkritnya antara lain pengembangan dan penyempurnaan data dasar peta kadastral serta pengembangan hutan desa, hutan kemasyarakatan, dan hutan tanaman rakyat.

"Rencananya MoU ditandatangani 26 Januari, tapi BP REDD+ malah dibubarkan 23 Januari 2015," kata Hening Parlan, Partnership and Stakeholder Engagement Specialist BP REDD+.

Berdasarkan Perpres Nomor 16/2015, kewajiban BP REDD+ akan dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Maka untuk menjaga Orang Rimba, salah satu caranya adalah memastikan agenda BP RED+ dilaksanakan kementerian itu.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, beberapa waktu lalu menyatakan bahwa dia pasti melanjutkan agenda BP REDD+.

"Saya pastikan muatan BP REDD+ dilanjutkan. Saya senang sekali kalau petugas BP REDD+ tetap bersama kita. Agendanya sudah jelas dan sekarang sedang kita konsolidasikan," katanya usai dialog Refleksi Kerja 100 Hari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diadakan Selasa (3/2/2015) di Jakarta.

Namun hingga minggu lalu, Gubernur Jambi Hasn Basri Agus mengatakan belum mendapat kejelasan tentang kelanjutan rencana yang disusunnya bersama BP REDD+.

Masalah hutan di Jambi dan Orang Rimba kompleks. Potensi konflik bukan cuma antara masyarakat dan pemilik konsesi hutan, tetapi juga antara Orang Rimba dan masyarakat non adat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Furwoko Nazor, fasilitator Orang Rimba KKI WARSI mengatakan, ada upaya dari warga lain untuk mendorong Orang Rimba menjual tanah dan kebunnya.

Hal itu kalau dibiarkan akan menyengsarakan Orang Rimba. Seperti kata Tumenggung Tarib, "Orang Rimba hidup kalau ada rimba." Kalau hutan sirna, jangankan gaji, hidup pun Orang Rimba tak akan memilikinya lagi.

Salah satu ekonom paling berpengaruh di dunia, Bjorn Lomborg, kepada Kompas.com Jumat (27/3/2015) lalu mengatakan, melestarikan hutan pasti mendatangkan manfaat.

"Untuk setiap 1 dollar AS yang kita keluarkan untuk hutan, kita akan mendapatkan benefit 10 dollar AS,' katanya. Angka itu didapatkan dengan mempertimbangkan fungsi hutan memberikan sumber air, nutrisi, mencegah bencana, dan fungsi kehidupan lain.

Menurut Lomborg, bisnis kehutanan seperti sawit dan tanaman industri memang akan memberikan keuntungan besar sesaat. Namun, bencana yang mungkin ditimbulkan juga akan lebih besar.


Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.