Kompas.com - 03/04/2015, 11:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna


Di setiap tahapan usia, kematian orang terdekat pada umumnya akan menghasilkan duka cita mendalam pada diri individu yang ditinggalkan. Duka cita yang berkepanjangan dapat berujung pada kemunculan depresi.

Depresi sendiri memiliki berbagai ciri-ciri, yang dapat berbeda pada tiap individu, serta dapat pula khas bergantung pada pencetus depresi itu sendiri. Ditinggalkan pasangan akibat kematian banyak dialami oleh individu lanjut usia (lansia), dan tidak sedikit dari mereka yang mengalami depresi karenanya.

Sebuah penelitian mengenai duka kematian pada lansia dan depresi yang dipublikasikan pada tahun 2015 di Journal of Abnormal Psychology berjudul “From Loss to Loneliness: The Relationship Between Bereavement and Depressive Symptoms” mengkaji efek dari kematian pasangan terhadap kemunculan gejala depresi dengan membandingkan tingkat depresi pada lansia yang sudah ditinggal meninggal oleh pasangannya di usia lanjut dengan lansia yang masih memiliki pasangan.

Seperti bisa diduga, hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan lansia yang masih mempunyai pasangan, kelompok lansia yang telah kehilangan pasangan akibat kematian menunjukkan gejala depresi yang lebih banyak dengan level yang lebih tinggi. Mereka yang telah ditinggal oleh pasangannya juga menunjukkan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dan mereka juga lebih tidak dapat menikmati hidup.

Kajian lanjutan yang menarik dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa duka cita sepeninggal pasangan, utamanya akan memunculkan gejala depresi berupa perasaan kesepian. Kemudian, perasaan kesepian ini baru menjalar mengaktifkan gejala-gejala depresi lainnya.

Temuan ini perlu mendapat perhatian karena dapat memberikan petunjuk penanganan yang tepat sasaran bagi para lansia tersebut, yaitu langsung pada gejala kesepian terlebih dahulu. Dengan berpegang pada perspektif bahwa gejala kesepian ini adalah yang memulai munculnya gejala depresi lain, maka jika gejala kesepian ini dapat diatasi dengan baik, maka gejala lain pun kemungkinan akan ikut membaik pula.

Tidak sedikit tantangan dialami oleh anggota keluarga para lansia yang depresi karena kematian pasangannya. Sekadar menghibur seringkali dirasakan tidak cukup karena depresi terkait duka cita ini sangat mungkin memiliki wajah yang unik dibandingkan dengan penyebab lain.

Namun, di sisi lain, para anggota keluarga pun tidak tahu persis tindakan yang lebih tepat sasaran untuk dilakukan. Tidak jarang akhirnya penanganan hanya difokuskan untuk mengalihkan rasa duka saja, tetapi tidak untuk mengatasi depresinya secara komprehensif.

Dengan berkaca pada hasil penelitian tadi, maka berfokus pada penanganan perasaan kesepian dapat menjadi pilihan yang lebih tepat sasaran. Bentuk konkretnya antara lain berupa menemani secara bergantian dan mengajak bicara secara rutin.

Cara-cara ini akan membuat lansia yang ditinggalkan menjadi lebih terbiasa dengan kondisi sepeninggal pasangannya, dan belajar menerima bahwa kebersamaan dengan pasangan digantikan oleh kebersamaan dengan anggota keluarga lain. Untuk lansia yang masih bisa aktif secara fisik, membuatkan rencana kegiatan juga dapat menjadi alternatif lain untuk menghadapi kondisi ini.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.