Dari Atas Boeing 747, Astronom Memecahkan Misteri Besar Alam Semesta

Kompas.com - 23/03/2015, 21:00 WIB
Pola garis menunjukkan debu kosmik di sekitar Sagitarius A East. Debu tersebut dikonfirmasi berasal dari supernova 10.000 tahun lalu. NASA/CornellPola garis menunjukkan debu kosmik di sekitar Sagitarius A East. Debu tersebut dikonfirmasi berasal dari supernova 10.000 tahun lalu.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com
 — Astronom menyatakan, Bumi dan obyek lain di alam semesta tersusun atas material dari bintang dan debu-debu antariksa. Namun, dari mana material itu berasal?

Baru-baru ini, peneliti post-doktoral di Universitas Cornell di Amerika Serikat, Ryan Lau, berhasil mendapatkan petunjuk berharga. Bumi tersusun atas debu-debu hasil ledakan bintang atau supernova.

Astronom sudah mengetahui bahwa supernova menghasilkan debu dalam jumlah besar. Akan tetapi, mereka ragu apakah debu bisa survive dari gelombang kejut akibat ledakan bintang.

Lau dan rekannya berhasil mengobservasi secara langsung awan debu kosmik yang berasal dari supernova. Hal itu mengonfirmasi bahwa debu memang bisa "selamat" dari dahsyatnya supernova.

"Observasi kami mengungkap awal debu yang dihasilkan oleh supernova 10.000 tahun lalu yang cukup untuk menghasilkan 7.000 Bumi," kata Lau.

Lau dan rekannya melakukan observasi dengan Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy, instrumen milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang berada di atas pesawat Boeing 747 jumbo jet.

"Kami menggunakan fasilitas observatorium terbang, bergerak dengan kecepatan 600 mph (965 km per jam) pada ketinggian 45.000 kaki (13.715 meter) untuk mengambil gambar sisa-sisa supernova yang berada pada jarak 27.000 tahun cahaya dari kita," kata Lau seperti dikutip Huffington Post, Minggu (22/3/2015).

Lau mengungkapkan, dia sedang mengamati "dua obyek terang" di sekitar Sagitarius A East ketika menjumpai awan debu.

Lewat pengamatan dengan inframerah, Lau berhasil mengonfirmasi bahwa 7-20 persen dari debu angkasa survive dari efek gelombang kejut saat supernova terjadi. Debu-debu mungkin survive sebab adanya gas mampat yang berada di sekitarnya.

Hasil penelitian lau dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis (19/3/2015) minggu lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Fenomena
Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.