Pemberantasan DBD Dimulai dari Rumah Gubernur

Kompas.com - 14/03/2015, 16:04 WIB
Fogging di Balai Kota, Senin (9/3/2015) sore paska Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama terjangkit penyakit demam berdarah. Kompas.com/Kurnia Sari AzizaFogging di Balai Kota, Senin (9/3/2015) sore paska Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama terjangkit penyakit demam berdarah.
|
EditorLusia Kus Anna

Gubernur Basuki Tjahaja Purnama tidak masuk kerja selama 3 hari karena demam berdarah dan sudah mulai kerja kembali pada hari ke-4. Ada beberapa hal yang beliau sampaikan kepada media pada hari pertama beliau kembali bekerja bahwa ternyata ditemukan jentik di dispenser rumahnya.

Selain itu menarik pula pernyataan beliau nyamuk kurang kuat menggigit sehingga cukup dirawat 3 hari. Pernyataan orang nomor 1 di DKI ini membuat saya tergelitik membuat tulisan ini agar menjadi kewaspadaan dan masyarakat tidak salah kaprah tentang penyakit demam berdarah ini.

Dalam beberapa minggu terakhir ini memang terjadi peningkatan  kasus demam berdarah di tengah masyarakat Jakarta. Yang menarik penyakit ini juga menyerang orang nomor 1 di Jakarta termasuk anak beliau. Dan menarik lagi ketika pertama kali beliau masuk kerja setelah 3 hari sakit, beliau menyampaikan bahwa jentik nyamuk ditemukan dirumahnya.

Sebenarnya apa yang harus dikerjakan masyarakat untuk terhindar dari penyakit demam berdarah ini adalah terhindar dari gigitan nyamuk. Bicara soal nyamuk yang menjadi vektor pembawa penyakit demam berdarah adalah nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk berasal  dari jentik nyamuk, kalau jentik dapat diberantas maka jumlah nyamuk juga akan menurun.

Oleh karena itu maka dibentuk juru pemantau jentik (jumantik) yang berasal dari masyarakat yang sebenarnya diminta untuk secara sukarela untuk membantu menemukan jentik nyamuk. Sebenarnya ada sedikit dana untuk para jumantik ini tapi kisruhnya APBD DKI 2015, dana untuk para jumantik belum turun.

Saya tidak tahu apakah ada petugas Jumantik disekitar rumah pak gubernur atau karena dianggap gubernur sudah mengerti bisa menyuruh pembantunya untuk menemukan jentik nyamuk tersebut. Dalam prakteknya memang kadang kala rumah-rumah besar dan berhalaman luas tidak mau didatangi para jumantik ini, padahal para jumantik ini dilatih untuk menemukan jentik nyamuk.

Hal ini merupakan salah satu kendala kenapa pemberantasan penyakit demam berdarah berjalan di tempat atau bertambah buruk. Karena ada rumah-rumah besar yang pemiliknya kurang memperhatikan genangan air yang ada di rumahnya sehingga genangan-genangan air tersebut menjadi tempat hidupnya sarang nyamuk.

Saat ini murid-murid SD di Jakarta khususnya para dokter kecil dilatih untuk menjadi jumantik untuk sekolahnya. Adapun lokasi yang bisa menjadi tempat hidup jentik nyamuk antara lain kaleng bekas, bak-bak tempat penyimpan air, air-air tergenang di sekitar AC, pot-pot tanaman, termasuk juga genangan air dispenser.

Gubernur baru harus peduli mengenai hal tersebut kalau ingin jumlah kasus demam berdarah ini turun di kota Jakarta yang kita cintai ini. Kalau perlu dilakukan lomba tingkat kelurahan atau tingkat SD dengan jumlah kasus dan jentik nyamuk terendah.

Panyakit demam berdarah Dengue (DBD) sendiri merupakan penyakit yang harusnya dapat dicegah, temukan jentik dan soasialisakan   3M (Mengubur,Mengurus dan Menutup) yang sudah menjadi slogan Kemenkes: Mengubur barang bekas, Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan Air dan pemberian abate.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X