Khawatir Ketergantungan karena Obat Psikiater

Kompas.com - 26/02/2015, 10:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

Kebanyakan pasien yang datang berobat ke psikiater biasanya mengkhawatirkan akan adanya ketergantungan obat yang diberikan. Pada kasus yang sering dialami dalam praktek sehari-hari saja banyak pasien yang bertanya apakah obat yang akan diberikan menimbulkan efek samping terhadap tubuh dan menimbulkan ketergantungan. Walaupun sudah sering dibahas, tidak ada salahnya kita menyegarkan kembali ingatan kita akan informasi terkait pengobatan psikiater ini.

Saat ditanya berapa lama pengobatan, biasanya untuk kasus depresi dan cemas saya mengatakan bahwa biasanya akan berlangsung antara kurang lebih 6 bulan. Pada kasus-kasus yang baru dan respon pengobatannya cepat maka pasien bisa mengalami perbaikan pada minggu-minggu awal sehingga 3 bulan dianggap cukup stabil dan bisa melepaskan pengobatan.

Kasus yang sudah lebih lama dan yang ditambah dengan masalah keterkaitan dengan pernahnya menggunakan narkotika, bisa memakan waktu pengobatan sampai 6-12 bulan.

Pasien bertanya mengapa ketika gejala membaik obat tidak langsung dihentikan saja? Masalah penyakit jiwa memang berbeda dengan penyakit infeksi biasa yang diakibatkan karena bakteri. Infeksi pencernaan seperti typus bisa sembuh dalam waktu 2 minggu dengan pengobatan antibiotik yang adekuat.

Sayangnya tidak demikian pada masalah penyakit jiwa. Pengobatan disarankan dilanjutkan selama mungkin sejak pasien mengalami perbaikan dalam artian lepasnya gejala. Pada beberapa kasus lain bahkan ada yang disarankan minum obat seumur hidup. Hal ini disarankan dalam berbagai penelitian tentang terapi psikiater dan juga berkaitan dengan fungsi otak yang terlibat dalam proses gangguan kejiwaan.

Sering kali hambatan dalam terapi psikiatri adalah pasien merasa menakutkan kalau sampai harus makan obat dalam jangka waktu yang lama. Kekhawatiran merusak organ lain atau menimbulkan efek tidak baik ke depan adalah hal yang menjadi perhatian pasien. Di lain pihak banyak pihak-pihak di dekat pasien yang sering menjadi penasehat bahwa makan obat lama itu tidak baik untuk kesehatan. Sayangnya mereka juga tidak punya alternatif lain untuk kesembuhan pasien.

Apakah saya perlu makan obat?

Pasien sering bertanya apakah ada alternatif selain obat untuk mengatasi masalahnya. Berbagai rupa masalah kejiwaan tentunya memiliki berbagai alternatif terapi juga. Namun demikian di era kemajuan teknologi medis termasuk di dalamnya terapi obat, maka terapi dengan obat adalah salah satu yang diharapkan mempercepat perbaikan pasien. Ada pula gangguan kejiwaan seperti gangguan bipolar dan skizofrenia yang hampir pasti harus dibantu dengan pengobatan agar bisa terkendali.

Psikoterapi sebagai suatu jenis terapi yang paling disarankan untuk mendampingi pengobatan psikiater dengan obat juga bisa dilakukan, sayangnya pengertian banyak pasien tentang terapi ini sangat minim. Apalagi ditambah dengan harapan sekali terapi langsung semua beres.

Psikoterapi membutuhkan waktu. Sesi psikoterapi yang biasanya tidak hanya sekali dan setiap minggu dilakukan sering kali tidak bisa dipenuhi pasien. Belum lagi bahwa sebenarnya psikoterapi membutuhkan keaktifan pasien dalam berpartisipasi dalam terapi.Sayangnya juga hal ini tidak sering dilakukan pasien.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X