Kompas.com - 18/02/2015, 21:11 WIB
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir KOMPAS.com/ICHA RASTIKAMenteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir
EditorLaksono Hari Wiwoho


JAKARTA, KOMPAS.com
- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir akan berkunjung ke Iran mempelajari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada 22-24 Februari 2015. Kunjungan ini dimaksudkan untuk mempelajari teknologi nuklir Iran sebelum Indonesia membangun PLTN skala kecil di Serpong, Banten.

"Teknologi nuklir Iran sudah cukup tinggi. Kami ingin tanyakan juga apa yang membuat pembangunan PLTN Iran diboikot, padahal puluhan negara lain menggunakan PLTN," kata Menteri saat menerima kunjungan Masyarakat Penulis Iptek (Mapiptek) di Jakarta, Rabu (18/2/2015).

Ia menyebutkan, kunjungan ke Iran itu juga terkait dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi negara-negara anggota Gerakan Non-Blok. Indonesia akan membangun PLTN skala laboratorium (Reaktor Daya Eksperimental/RDE) berkapasitas antara 10-40 megawatt (MW) di mana studi kelayakannya akan mulai dilakukan tahun ini dan diharapkan selesai akhir 2017.

"Segera setelah itu bisa dilakukan conditioning, sehingga diharapkan RDE sudah bisa beroperasi 2021. Kami berharap dengan ini masyarakat akan bisa melihat sendiri keamanan PLTN dan menerima dengan antusias PLTN yang sebenarnya," kata Nasir sebagaimana dikutip Antara.

Nasir menilai keberadaan PLTN di Indonesia amat penting karena bersih bagi lingkungan dan dapat memenuhi kebutuhan listrik murah, massal, dan andal. Ia membandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak di mana biaya listrik per kwh mencapai 18 sen dollar AS. Adapun pembangkit listrik batu bara berbiaya 12 sen dollar AS per kwh atau bila biaya lingkungan dimasukkan, maka bisa lebih dari 18 sen dollar AS per kwh.

Sementara itu, pilihan penggunaan energi terbarukan seperti geotermal mencapai 15 sen dollar AS. Nasir menyebutkan, pembangkit listrik tenaga air memang lebih murah, tetapi tidak bisa diandalkan karena sungai sudah semakin menyempit.

"Yang paling murah hanya nuklir, sekitar 3,4 sen dollar per kwh, maksimal 6 sen. Meskipun investasi pembangkit besar, namun biaya bahan bakar per tahunnya murah karena uranium 1 kg saja sudah bisa membangkitkan puluhan megawatt selama setahun," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nasir menuturkan, investasi RDE di Serpong antara Rp 1,6 triliun dan Rp 1,8 triliun. Hasil listriknya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik internal. Ia menyebutkan, generasi keempat PLTN saat ini sangat aman dan berbeda jauh dari PLTN di masa Chernobyl. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang tetap aman mengoperasikan 100 PLTN untuk mencukupi kebutuhan 325 juta penduduknya.

"Jadi 1 PLTN AS berkapasitas 1.000 MW untuk melistriki 3,25 juta penduduk. Artinya, satu orang AS mendapat alokasi listrik 35.000 Watt, sementara Indonesia paling-paling 900 Watt," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

Oh Begitu
Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

Fenomena
Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

Oh Begitu
Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Oh Begitu
Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.