Riset Ungkap Kenyataan Menyedihkan tentang Sampah Plastik dari Indonesia

Kompas.com - 15/02/2015, 20:47 WIB
Sampah plastik di Pantai Hanauma, Hawaii. APSampah plastik di Pantai Hanauma, Hawaii.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Indonesia menempati urutan nomor 2 dalam daftar 20 negara yang paling banyak membuang sampah plastik di laut. Urutan teratas ditempati China yang membuang hingga 3,5 juta ton sampah plastik ke laut setiap tahunnya.

Data ini terungkap dalam hasil penelitian yang dimuat di jurnal Science yang terbit Jumat (13/2/2015). Disebutkan, setiap tahun lautan di seluruh dunia dipenuhi sampah plastik hingga 12,7 juta ton.

Besarnya jumlah sampah plastik yang dibuang ke laut oleh China, menurut Dr Christ Wilcox, pakar ekologi dari lembaga penelitian Australia CSIRO, disebabkan oleh berbagai faktor.

"Ini adalah akibat dari kombinasi besarnya populasi dan tingkat pembangunan di negara tersebut," katanya.

Indonesia sendiri menempati urutan nomor dua disusul Filipina, Vietnam dan Sri Lanka.

Sementara Australia meskipun tidak termasuk dalam 20 besar, namun setipa tahunnya juga turut membuang sampah plastik ke lautan dengan jumlah sekitar 0,01 juta ton.

"Itu data tahun 2010," kata Dr Wilcox. "Dan populasi Australia tidak besar di samping telah memiliki sistem pengolahan sampah yang maju."

Selama ini, besaran volume sampah plastik di lautan diukur dengan cara perkiraan kasar sehingga angkanya harus dilihat secara kisaran.

Untuk mengatasi persoalan itu, tim peneliti yang dipimpin Dr Wilcox menggunakan model yang memasukkan faktor skala pembangunan ekonomi suatu negara, jumlah rata-rata sampah yang diproduksi, cara pengolahan sampah, serta jumlah populasi yang bermukim di radius 50 km dari garis pantai.

Dengan menggunakan data tahun 2010 untuk 192 negara, tim peneliti ini kemudian menghitung sebanyak 275 juta ton sampah dihasilkan tahun itu. Dan dari jumlah tersebut dibuat rentang antara jumlah minimal dan maksimal sampah plastik yang terbuang ke laut. Ditemukan angka antara 4,8 juta ton hingga 12,7 juta ton.

Dr Wilcox menyebutkan, insentif untuk memungut sampah plastik kurang menarik karena harga bahan plastik yang murah. "Plastik dihargai sangat murah," katanya.

"Kita bisa membantu suatu negara mengelola sampahnya dan mengenakan denda bagi yang membuat sampah sembarangan," kata Dr Wilcox.

"Tapi yang paling utama adalah membuat bahan baku plastik itu lebih berharga," tambahnya.

Dijelaskan, dalam siklus 11 tahun, jumlah plastik mengalami peningkatan dua kali lipat, dengan kemasan dan bungkus makanan atau minuman yang menjadi jenis sampah plastik terbesar.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X