Kompas.com - 20/01/2015, 18:31 WIB
Proses produksi aerosol ketika air hujan menyentuh tanah. MIT/Youngsoo JoungProses produksi aerosol ketika air hujan menyentuh tanah.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Hujan deras akan menghasilkan bau tanah yang begitu menyegarkan. Namun, apakah kita tahu apa sebab bau menyegarkan itu, dan bagaimana hal tersebut dihasilkan?

Peneliti Australia, IG Bear dan RG Thomas, pada publikasinya di jurnal Nature tahun 1964 menyebut bau hujan sebagai petrichor. Bau tersebut dideskripsikan seperti campuran minyak tumbuh-tumbuhan dan senyawa geosmin yang dilepaskan saat hujan sampai tanah.

Kini, ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkap rahasia di balik bau tersebut dan menguraikannya.

Menggunakan kamera kecepatan tinggi, ilmuwan mengobservasi cara tetesan air hujan menjebak gelembung udara saat menyentuh tanah. Hasil observasi dipublikasikan di jurnal Nature Communication, Rabu (14/1/2015) lalu.

Ilmuwan menemukan, tetesan air hujan akan menghasilkan senyawa bernama aerosol ketika menyentuh tanah.

Prosesnya, ketika menyentuh permukaan tanah berpori, tetesan air hujan akan memipih karena berkurangnya energi kinetik. Gelembung udara lalu terbentuk akibat perbedaan kecepatan pemuaian air dengan penyerapan air oleh tanah.

Penyerapan air oleh tanah berlangsung, membuat gelembung udara terjebak lalu membesar, dan terus bergerak naik.

Saat gelembung udara menyentuh permukaan bagian atas tetesan air, maka gelembung itu akan pecah. Saat pecah, gelembung itu kemudian melepaskan aerosol serta senyawa lain yang ada di tanah. Proses ini sangat singkat, cuma seperseratus ribu detik.

Menurut Cullen Blue, peneliti dari MIT yang terlibat dalam riset ini, gelembung udara yang pecah tak hanya melepaskan senyawa kimia, tetapi juga mikroorganisme, ke lingkungan sekitar.

Blue juga mengatakan bahwa lebih banyak partikel akan dihasilkan oleh hujan ringan dan sedang daripada hujan deras.

"Hujan terjadi setiap hari, sekarang juga sedang hujan di suatu wilayah di dunia. Hujan adalah fenomena yang sangat umum dan begitu menarik bagi kami sebab tak ada orang yang mengobservasi mekanisme ini," kata Blue seperti dikutip BBC, Jumat (16/1/2014).

Ilmuwan sudah pernah mengamati produksi aerosol saat air hujan menyentuh permukaan air. Ini adalah riset pertama yang mendeskripsikan produksi aerosol saat air menyentuh tanah.

Selain memahami mekanisme terbentuknya bau hujan, riset ini juga memungkinkan ilmuwan untuk memahami penyebaran mikroorganisme lewat hujan. Siapa tahu, bakteri macam E coli juga bisa disebarkan lewat hujan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Olahraga saat Puasa Bantu Turunkan Berat Badan, Kapan Waktu yang Tepat?

Kita
8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

Kita
Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X