Djoko Tjahjono Iskandar, Ahli Katak Indonesia yang Bikin Geger Dunia

Kompas.com - 08/01/2015, 20:00 WIB
Djoko Tjahjono Iskandar bersama dua spesies temuannya yang menggegerkan dunia, Barbourula kalimantanensis (kiri atas) dan Limnonectes larvaepartus (kiri bawah) Zootaxa/PLOSONE/KOMPASDjoko Tjahjono Iskandar bersama dua spesies temuannya yang menggegerkan dunia, Barbourula kalimantanensis (kiri atas) dan Limnonectes larvaepartus (kiri bawah)
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Ketika publikasi berjudul "A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles" muncul di jurnal PLOS ONE pada 31 Desember 2014 lalu, dunia terkejut.

Media sains dan umum di dunia internasional ramai mengutip publikasi tersebut. Sejumlah pakar reptil dan amfibi dunia menyatakan bahwa publikasi tersebut mengagumkan sekaligus sangat berharga.

Makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya. Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.

Dunia bertanya-tanya, bagaimana bisa katak yang tak memiliki penis melakukan pembuahan di dalam tubuh? Bagaimana caranya menyetor sperma ke betina? Lalu, bagaimana mungkin katak tak bertelur, tetapi langsung melahirkan kecebong?

Djoko Tjahjono Iskandar adalah herpetolog (pakar amfibi dan reptil) di balik penemuan katak itu. Dia adalah ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berkali-kali membuat geger dunia sains lewat temuan-temuannya.

Pria kelahiran Bandung, 23 Agustus 1950, tersebut memulai karier sebagai herpetolog pada tahun 1978. Pilihannya menekuni katak dan reptil sangat tidak populer. "Waktu itu belum ada ahli katak di Indonesia. Saya satu-satunya. Bisa dibilang saya pioneer," katanya.

Untuk menekuni katak-katak Indonesia, dia harus belajar dari ahli dari luar negeri. Ia berkorespondensi lewat surat, salah satunya dengan Robert Frederick Inger, ahli katak dan reptil dari Field Museum yang juga banyak mempelajari keanekaragaman hayati Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketekunan Djoko membuahkan hasil. Hanya tiga tahun setelah memulai kariernya, pria yang meraih gelar doktor dari Université Montpellier 2 di Montpellier Perancis ini menemukan Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo.

Tahun 2008, ia kembali meneliti Barbourula kalimantanensis. Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 6 Mei 2008 mengungkap fakta baru. Katak kepala pipih itu ternyata tidak punya paru-paru.

"Waktu itu geger juga. Jenis itu adalah satu-satunya katak di dunia yang tidak memiliki paru-paru, bernapasnya dengan kulit," ungkap Djoko yang mengaku menemukan jenis katak itu di Sungai Pinoh, bagian dari Kapuas, Kalimantan Barat.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.