Kisah Ilmuwan ITB Menemukan Satu-satunya Katak di Dunia yang Melahirkan Kecebong

Kompas.com - 08/01/2015, 16:34 WIB
Limnonectes larvaepartus Jimmy McGuireLimnonectes larvaepartus
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Keanekaragaman hayati Indonesia kembali membuat dunia berdecak kagum. Dari Sulawesi, ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB) menguak eksistensi katak Limnonectes larvaepartus, satu-satunya katak yang melahirkan kecebong di dunia.

Kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2015), Djoko Tjahjono Iskandar, herpetolog (pakar katak dan reptil) yang menemukan spesies tersebut mengungkap kisah panjang di balik penemuan katak yang tersebar di Sulawesi bagian barat dan dunia itu.

"Sebenarnya, kita sudah menjumpai pertama kali katak itu sejak tahun 1991. Waktu itu ada ahli asal Chicago yang ikut meneliti bersama kita," ungkap Djoko yang meneliti katak dan reptil sejak tahun 1975.

Penemuan tak segera dipublikasikan karena ada 2 masalah. Djoko menjumpai sejumlah spesies katak yang mirip sehingga jenis katak yang melahirkan itu belum bisa dikonfirmasi sebagai spesies baru.

Permasalahan lain, Djoko belum mengetahui persebaran katak yang melahirkan kecebong serta belum memiliki jumlah sampel individu dan perjumpaan proses melahirkan yang cukup untuk meyakinkan publik.

Djoko pun harus menunggu beberapa lama untuk memaparkan temuannya. Tahun 1998, dalam sebuah seminar di Manado, Djoko baru memaparkan pertama kali adanya jenis Limnonectes larvaepartus, namun belum menyebut nama spesies dan proses reproduksinya.

Setelah seminar itu, Djoko beserta tim peneliti lain dan mahasiswanya terus menggali informasi tentang katak tersebut. Ia beberapa kali melaksanakan ekspedisi, masuk ke hutan-hutan di Sulawesi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dari situ saya sebenarnya berencana menulis makalah tebal, 200 halaman. Tapi kemudian saya mengetahui ada tim peneliti lain yang juga mempelajari spesies yang saya temukan," urai Djoko.

Akhirnya, tahun 2014, lewat kerjasama dengan Ben J Evans dari McMaster University di Kanada dan Jimmy A McGuire dari University of California di Berkeley, Djoko merasa perlu untuk memublikasikan temuannya.

Untuk mengidentifikasi sebagai spesies baru, bukan hanya ciri-ciri fisik yang digunakan, tapi juga analisis molekuler yang mengungkap kekhasan genetik suatu spesies. Data tingkat genetik membuat kebaruan spesies tak terbantahkan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.