Kompas.com - 16/12/2014, 14:27 WIB
EditorPalupi Annisa Auliani
Oleh: Ahmad Arif

KOMPAS.com - Di antara bencana alam lain, longsor—selain banjir—sebenarnya paling mudah dideteksi. Longsor tak datang tiba-tiba sebagaimana gempa bumi, juga tak punya unsur kejutan dalam skalanya seperti letusan gunung api. Daerah rentan longsor bisa dikenali, beberapa instansi bahkan membuat petanya. Jika korban tetap banyak, berarti ada yang keliru.

Bahkan, 5 Desember 2014, atau sepekan sebelum longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (12/12), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi sudah mengirim surat peringatan. Karangkobar rentan longsor (skala menengah hingga tinggi), selain 19 kecamatan lain di Banjarnegara. Namun, peringatan dini tak sampai ke desa.

Gerakan tanah atau longsor adalah proses kasatmata. Syarat terjadinya pun diketahui, di antaranya kondisi tebing curam (kemiringan di atas 30 derajat), ketebalan soil tinggi (di atas 3 meter), dan curah hujan tinggi (di atas 50 milimeter per jam).

Seluruh persyaratan longsor itu terpenuhi di Dusun Jemblung, di kaki Bukit Tegalele. Berdasar peta PVMBG, kawasan itu memang digolongkan rentan longsor skala menengah hingga tinggi. Namun, peta berskala terlalu besar (1:250.000) itu tak menjadi dasar penataan ruang.

Bukit Tegalele dilapisi tanah vulkanik tebal, lebih dari 5 meter, berkemiringan hingga 60 persen. Longsor juga menyejarah di kawasan ini, misalnya 4 Januari 2006 saat longsor melanda Dusun Gunungraja, Desa Sijeruk, Banjarmangu, yang menewaskan 76 orang. ”Lokasi longsor di Jemblung kali ini berbatasan dengan lokasi longsor tahun 2006,” kata ahli longsor pada Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, Teuku Fasial Fathani.

Oleh karena longsor tahun 2006 itulah, Faisal dan tim UGM menyurvei kawasan ini tahun 2007, yang kemudian menyimpulkan Karangkobar peringkat pertama rentan longsor di Banjarnegara. Namun, segenap pengetahuan ini tak diterapkan hingga kebijakan.

Hingga pada Sabtu itu, ketika curah hujan di sana mencapai 101,8 mm—sehari sebelumnya 112,7 mm (data BMKG Banjarnegara)—longsor pun menimbun Jemblung. ”Alam selalu jujur. Jika bencana tak jadi dasar bagi tata ruang dan pembangunan hanya bertumpu ekonomi saja, bencana akan terus menelan korban,” kata Kepala Badan Geologi Surono.

Melindungi warga

Secara spesifik, menurut ahli longsor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Edi Prasetyo Utomo, ada tanda sebelum longsor, seperti retakan tanah. ”Ciri-ciri ini sebenarnya gampang dikenali,” katanya. ”Jika hujan menerus, penduduk di bawah tebing curam harus waspada dan menghindar.”

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.