Ada Kebun Obat Kanker hingga Obat Kuat di Tawangmangu

Kompas.com - 10/12/2014, 07:15 WIB
Kebun tanaman obat di Tawangmangu, Solo yang dikelola oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia. Dian MaharaniKebun tanaman obat di Tawangmangu, Solo yang dikelola oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.
|
EditorLusia Kus Anna

SOLO, KOMPAS.com - Siang itu urdara terasa sejuk di Desa Tlogo Dlingo, Tawangmangu, Solo. Pepohonan dan tanaman sambang colok bewarna merah keunguan berjajar memanjang di sisi kiri dan kanan  jalan yang tak terlalu lebar.

Tak jauh dari situ, kecubung gunung yang bunganya seperti terompet menggantung pun menarik perhatian. Ada pengunjung yang mendekati tanaman itu, ada pula yang berlalu dan melihat tanaman lain.

Saat itu, seorang pria bertopi dan mengenakan sepatu boot plastik, datang menghampiri. Teguh namanya. Teguh adalah penanggung jawab kebun yang dikelola oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia itu.

Teguh kemudian mengantar rombongan para awak media bersama SOHO Global Health mengelilingi kebun seluas 13 hektar itu. Kawasan  kebun tanaman obat ini dinamakan Reseach Station yang berada di ketinggian mencapai 1700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Tanaman tidak di semua tempat mau  hidup. Jadi harus di daerah tinggi,” kata Teguh saat ditemui Senin (8/12/2014).

Sejumlah tanaman di kebun ini tak hanya indah dipandang, tapi juga bermanfaat bagi kesehatan. Sambang colok tadi misalnya. Tanaman itu dapat menjadi peluruh air seni. Sementara itu, kecubung gunung dipercaya dapat menjadi obat anti asma.

Dian Maharani Silibium, tanaman obat berbunga cantik ini berkhasiat sebagai pelindung hati. Tanaman obat ini berada di kebun yang dikelola oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, Tawangmangu, Solo.

Teguh membawa rombongan melewati  jalur khusus untuk berjalan kaki mengelilingi kebun. Dari kebun ini pun diketahui bahwa tanaman obat di Indonesia tak hanya kunyit, temulawak, maupun jahe.


Ada tanaman lainnya seperti rusmarin sebagai obat batuk, silibium untuk pelindung hati, parijoto untuk sariawan,  cemara kipas sebagai penurun demam,  pohon minyak kayu putih untuk penghangat badan,  hingga piretrum yang buahnya digunakan sebagai obat nyamuk bakar.

Salah satu tanaman obat yang sudah dikenal  dan ada di kebun ini adalah  purwaceng. Purwaceng dipercaya dapat meningkatkan hormon testosteron pada pria, meningkatkan libido, dan meningkatkan stamina sehingga dikenal sebagai obat kuat tradisional.

Koleksi tanaman obat di sini mayoritas merupakan tanaman asli Indonesia. Berbagai macam tanaman obat juga berkhasiat untuk mencegah hingga mengobati penyakit kronik seperti kanker dan jantung. Di antaranya, ashitaba yang dipercaya ampuh mencegah pertumbuhan sel kanker. Daun tanaman asal Jepang ini mirip dengan seledri. Kemudian, daun digitalis purpurea yang berkhasiat sebagai obat lemah jantung.

Cukup mudah mengenal sejumlah tanaman ini karena dilengkapi dengan papan nama tanaman dan khasiatnya. Teguh mengatakan, semua tanaman obat di kebun  ini pun tanpa campur tangan bahan kimia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X