Pencurian Kayu Marak di Jambi

Kompas.com - 01/12/2014, 21:03 WIB
Lebih dari 30 meter kubik kayu curian dialirkan para pembalak liar melalui Sungai Kapas di dalam kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan di Kabupaten Batanghari di batas Jambi-Sumatera Selatan, Sabtu (29/11/2014). Irma TambunanLebih dari 30 meter kubik kayu curian dialirkan para pembalak liar melalui Sungai Kapas di dalam kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan di Kabupaten Batanghari di batas Jambi-Sumatera Selatan, Sabtu (29/11/2014).
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Setiap hari sekitar 30-50 meter kubik kayu ilegal melintasi Sungai Kapas dalam kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan di batas Jambi-Sumatera Selatan. Hal ini dipicu minimnya pengamanan sehingga pembalakan liar marak di dalam area satu-satunya hutan hujan dataran rendah Sumatera yang tersisa.

Penelusuran Kompas bersama tim Susur Sungai Komunitas Konservasi Indonesia Warsi dan pengelola Hutan Harapan PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki), Kamis-Sabtu pekan lalu, mendapati kayu curian dari hutan seluas 98.000 hektar itu setiap hari dialirkan menuju hilir melalui Sungai Kapas dan anak-anak sungainya.

Di Sungai Badak, anak Sungai Kapas, ditemukan kayu-kayu bulat dan balok dirakit sepanjang sekitar 150 meter. Dengan permukaan air tinggi karena hujan turun setiap hari dalam sepekan terakhir, kayu diduga lebih cepat sampai hilir.

Tidak hanya di Sungai Badak, belasan titik penumpukan kayu bulat dan olahan juga ditemukan di sepanjang tepian Sungai Kapas. Di tempat-tempat itu terdapat pondok-pondok yang dibangun para pembalak.

Pada Jumat malam, tim berpapasan dengan sejumlah orang yang membawa kayu rakitan tersebut. Dengan menggunakan perahu mesin, kayu dapat tiba di usaha pengolahan yang berlokasi di hilir sekitar 4 jam saja.

Terkait dengan maraknya aktivitas pembalakan di Hutan Harapan, Asisten Komunikasi PT Reki Anderi Satya mengatakan, pihaknya juga menelusuri praktik ini. Kayu-kayu curian sebagian besar dibawa ke wilayah Sako Suban, Bintialo, Kecamatan Batanghari Leko, Kabupaten Musi Banyuasin. Di wilayah itu banyak usaha pengolahan kayu yang diduga tak berizin beroperasi.

Menurut Anderi, saat penindakan pembalakan liar di wilayah selatan Hutan Harapan selama 2014, pihaknya menemukan 150 meter kubik kayu jenis meranti, kempas, bulian, dan medang. Namun, tak ditemukan para pencuri kayu di lokasi sehingga kayu yang ditemukan itu dimusnahkan.

Ia mengatakan, pembalakan liar dalam Hutan Harapan bukan lagi kegiatan sporadis berdasarkan kebutuhan masyarakat ekonomi lemah, melainkan sudah praktik berskala pemodal besar. Pekan lalu, lanjut Anderi, pihaknya juga mengamati kawasan Sungai Kapas Tengah. Selama 1 jam, ditemukan 12 rakit kayu bulian dalam bentuk balok. Semua kayu mengalir ke Sako Suban.

Terbebani

Hutan Harapan merupakan proyek awal pengelolaan hutan di Indonesia dalam konsep restorasi. Sejak mendapat izin Menteri Kehutanan tahun 2007, pengelola hutan kian terbebani dengan maraknya pembalakan dan perambahan. Perambahan liar di wilayah itu sudah 18.000 hektar. Praktik ilegal kian terorganisasi, dimulai dari pembalakan. Setelah kayu habis ditebang di satu lokasi, pelaku kemudian memperjualbelikan lahan kepada pendatang yang umumnya dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampung. Harga lahan sekitar Rp 5 juta per hektar. Lahan itu lalu menjadi kebun sawit, karet, dan permukiman.

Taufik, asal Sekayu, Sumatera Selatan, mengatakan, semula ia kerap membalak dalam kawasan Hutan Harapan. Sejak lima tahun lalu, dia menetap dalam hutan itu membuka kebun karet. Keluarganya pun ikut menetap. (ITA/KOMPAS CETAK)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Kita
Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac 'Aman'

Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac "Aman"

Fenomena
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

Fenomena
Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Fenomena
Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Oh Begitu
2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

Oh Begitu
Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Oh Begitu
Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Oh Begitu
Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Oh Begitu
Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Fenomena
Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Kita
Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Oh Begitu
Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Kita
Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Oh Begitu
Kenali Gejala Infeksi Menular Seksual, dari Gatal hingga Muncul Tumor

Kenali Gejala Infeksi Menular Seksual, dari Gatal hingga Muncul Tumor

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X