Kompas.com - 24/11/2014, 08:16 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Bukti arkeologi memberi indikasi bahwa Liyangan tidak hanya digempur bencana sekali saja. Wilayah yang dulu dianggap "desa metropolitan" tersebut tumbuh runtuh secara berulang akibat erupsi gunung berapi.

Arkeolog yang memimpin proyek penelitian situs Liyangan, Sugeng Riyanto, mengungkapkan, bukti Liyangan diserang amukan gunung berapi lebih dari sekali bisa dilihat pada salah satu candi di kompleks situs Liyangan.

"Candinya didirikan di atas batuan hasil letusan gunung. Jadi batu itu tidak dipindahkan, langsung dipakai sebagai fondasi," ungkap Sugeng saat ditemui di sela proses ekskavasi pada Minggu (23/11/2014).

Candi yang dimaksud berada pada teras pertama kompleks situs Liyangan. Candi tersebut berbahan sepenuhnya batu dan diduga menjadi tempat persiapan bagi umat Hindu saat itu sebelum melakukan ibadah.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Struktur jalan besar terbuat dari bebatuan di Situs Liyangan, kaki Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Sabtu (22/11/2014). Ekskavasi lanjutan dari Balai Arkeologi Yogyakarta di situs ini mengungkap temuan baru yaitu permukiman kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-6.

Selama ini, para arkeolog menduga bahwa erupsi yang mengakibatkan runtuhnya peradaban kampung Liyangan adalah letusan Gunung Sindoro yang diperkirakan terjadi antara abad ke-9 dan 10.

Adanya candi yang berdiri di atas material vulkanik membuka kemungkinan adanya erupsi yang menerjang kawasan Liyangan sebelum masa antara abad ke-9 dan 10. Waktunya belum diketahui.

Keberadaan candi itu juga membuka kemungkinan adanya peradaban di Liyangan sebelum peradaban yang runtuh akibat erupsi sekitar satu milenium lalu. "Tapi kita belum menemukannya," kata Sugeng.

Liyangan terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, 7 kilometer dari puncak Gunung Sindoro. Berdasarkan pemetaan, Liyangan memang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) 2 Gunung Sindoro.

Situs Liyangan mulai ditemukan pada tahun 2008 lewat aktivitas penambangan pasir. Setelahnya, penggalian mulai dilakukan secara intensif. Prediksi terbaru, wilayah situs Liyangan memiliki luas hingga 10 hektar.

Candi yang berdiri di atas material vulkanik hanyalah salah satu candi di Liyangan. Kompleks Liyangan punya tiga teras bangunan. Pada teras kedua, terdapat dua batur sementara pada teras ketiga terdapat 1 bangunan candi utama dan 5 batur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.