Kompas.com - 24/11/2014, 07:30 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com
 — Tim arkeolog kembali menemukan jejak peradaban Mataram Kuno berharga di situs Liyangan, Temanggung, Jawa Tengah. Lewat ekskavasi, tim menemukan fitur arkeologi berupa lubang-lubang yang menjadi tempat kayu atau bambu bagian struktur bangunan kuno.

"Tidak sengaja ketemu. Saya kaget juga tadi," ungkap Sugeng Riyanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, yang memimpin proyek penelitian situs Liyangan.

"Pertama kita temukan dua lubang. Setelah saya amati, kok ternyata sejajar dengan batu di sekitarnya. Saya coba ukur dengan jengkal, ternyata ketemu lagi lubang-lubang yang lain," urainya saat ditemui di sela proses penggalian pada Minggu (23/11/2014).

Pada spit penggalian yang sama dengan tempat ditemukannya fitur lubang, arkeolog juga menemukan tulang, kepingan keramik, arang bekas kayu yang terbakar, dan batu candi.

Yang menarik, walaupun terletak pada satu spit, fitur lubang dan temuan lain tidak berkaitan satu sama lain. Arang, kepingan, keramik, dan tulang bukan merupakan bagian dari bangunan yang berdiri di atas fitur lubang.

Sebab, arang dan lainnya berasal dari lapisan erupsi, lapisan vulkanik, dan material lain yang terbakar akibat erupsi Sindoro yang memendam Liyangan satu milenium lalu.

Sementara itu, lubang berada di bawah lapisan erupsi. Lubang pada lapisan itu terkuak setelah arkeolog mengupas lapisan erupsi setebal 3-10 cm pada spit penggalian yang berukuran 2 x 2 meter.

Dua jejak peradaban yang berasal dari dua lapisan dan dua zaman dalam satu spit menjadi daya tarik tersendiri secara arkeologis.

Sugeng mengungkapkan, "Rencananya, saya dan Balar (Balai Arkeologi) akan tetap biarkan begitu saja. Untuk sementara, ini akan ditutup dengan plastik. Nanti kita ganti dengan kaca, dan dipamerkan, disertai dengan keterangan."

Temuan lubang dan material vulkanik serta penyajiannya bisa memberikan gambaran tentang sejarah peradaban Liyangan.

"Orang nantinya nggak cuma tahu candi, tetapi bisa tahu bagaimana nenek moyangnya hidup dulu," katanya. Untuk bangunan yang berdiri di atas fitur lubang sendiri, Sugeng belum mengetahuinya dengan pasti. Bangunan tersebut bisa jadi merupakan rumah ataupun pagar.

KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT Bangunan candi di teras 3 Situs Liyangan, kaki Gunung Sindoro, Desa Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Sabtu (22/11/2014). Ekskavasi lanjutan dari Balai Arkeologi Yogyakarta di situs ini mengungkap temuan baru yaitu permukiman kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-6.

Situs Liyangan ditemukan pada tahun 2008. Sejak saat itu, penggalian terus dilakukan hingga menemukan bangunan seperti candi dan sisa-sisa rumah masa lalu.

Terletak pada ketinggian 1.200 meter di lereng Sindoro, Liyangan merupakan situs berharga dari masa Mataram Kuno. Liyangan yang menurut arkeolog adalah sebuah "desa metropolitan" adalah kompleks permukiman pertama dan terlengkap terkait Mataram Kuno.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Muncul Subvarian Baru Omicron BA.4.6, Ini Penjelasan Epidemiolog

Muncul Subvarian Baru Omicron BA.4.6, Ini Penjelasan Epidemiolog

Oh Begitu
3 Fakta Rebound Covid-19, Kondisi yang Sempat Dialami Presiden AS Joe Biden

3 Fakta Rebound Covid-19, Kondisi yang Sempat Dialami Presiden AS Joe Biden

Oh Begitu
Vaksin Khusus Omicron BioNTech Diharapkan Dikirim Setelah Oktober

Vaksin Khusus Omicron BioNTech Diharapkan Dikirim Setelah Oktober

Oh Begitu
Penyakit Kanker di Indonesia Meningkat, Ini Strategi Kemenkes Mengatasinya

Penyakit Kanker di Indonesia Meningkat, Ini Strategi Kemenkes Mengatasinya

Oh Begitu
Ahli Ungkap Kehidupan Kelas Menengah di Pompeii Sebelum Hancur

Ahli Ungkap Kehidupan Kelas Menengah di Pompeii Sebelum Hancur

Oh Begitu
Dampak Polusi Udara bagi Anak-Anak

Dampak Polusi Udara bagi Anak-Anak

Kita
Studi Ungkap Ikan Pari Ternyata Memproduksi Suara

Studi Ungkap Ikan Pari Ternyata Memproduksi Suara

Oh Begitu
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG 9-10 Agustus 2022 akibat Bibit Siklon Tropis 97W

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG 9-10 Agustus 2022 akibat Bibit Siklon Tropis 97W

Fenomena
Apa Itu Baby Blues, Perasaan Sedih yang Muncul Setelah Melahirkan?

Apa Itu Baby Blues, Perasaan Sedih yang Muncul Setelah Melahirkan?

Oh Begitu
Mungkinomologi Asal Mula Kehidupan

Mungkinomologi Asal Mula Kehidupan

Oh Begitu
Kasus Positif Covid-19 Anak Meningkat, Epidemiolog Ingatkan Pentingnya Vaksinasi dan Prokes

Kasus Positif Covid-19 Anak Meningkat, Epidemiolog Ingatkan Pentingnya Vaksinasi dan Prokes

Oh Begitu
Tren Kasus Covid-19 pada Anak Sekolah Meningkat, Ini Penyebabnya Kata Epidemiolog

Tren Kasus Covid-19 pada Anak Sekolah Meningkat, Ini Penyebabnya Kata Epidemiolog

Oh Begitu
Gempa Terkini M 5,0 Guncang Lampung Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Terkini M 5,0 Guncang Lampung Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter Masih Terjadi pada 9-10 Agustus 2022

Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter Masih Terjadi pada 9-10 Agustus 2022

Fenomena
[POPULER SAINS] Isolasi Mandiri Cacar Monyet | Bayi 6 Bulan Meninggal Usai Diajak Naik Motor | Relief Candi Jago Ungkap Gambaran Siksa Neraka

[POPULER SAINS] Isolasi Mandiri Cacar Monyet | Bayi 6 Bulan Meninggal Usai Diajak Naik Motor | Relief Candi Jago Ungkap Gambaran Siksa Neraka

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.