Perlunya Bantuan Psikiater pada Pasangan Kurang Subur

Kompas.com - 20/11/2014, 10:46 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

Salah satu bahasan menarik dalam simposium paralel di hari terakhir Academy of Psychosomatic Medicine annual meeting kemarin adalah tentang masalah pasangan infertil dan aspek psikiatri yang menyertainya. Pembicara pada sesi ini semuanya perempuan dan berasal dari School of Medicine at Mount Sinai.
 
Aspek psikiatri ditekankan pada pembahasan ini dikarenakan masalah psikologis terkait infertilitas bukan hanya berasal dari masalah primernya yang berkaitan dengan ketidakmampuan pasangan mempunyai anak. Negara maju seperti Amerika Serikat mempunyai teknologi maju untuk pasangan infertil, namun demikian prosedur  yang berkaitan untuk memperoleh keturunan ini juga tidak luput dari masalah psikologis dan psikiatris.

Seringnya prosedur yang invasif, lamanya waktu menunggu dan ketidakjelasan, angka keberhasilan yang rendah sering kali menjadi hal yang berkaitan dengan prosedur mendapatkan keturunan dengan teknologi. Hal-hal ini telah dibuktikan mempunyai keberkaitan dengan masalah psikiatrik seperti depresi dan cemas.

Infertiltas dan Masalahnya

Definisi infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah satu tahun hubungan seksual rutin tanpa perlindungan atau alat kontrasepsi. Infertilitas bisa dibagi menjadi dua yaitu infertilitas primer dan sekunder. Primer artinya tidak pernah ada kehamilan sebelumnya, sedangkan sekunder artinya pernah ada kehamilan sebelumnya setidaknya satu kali.

Secara statistik kemampuan untuk hamil seorang wanita per bulan adalah 20-25% dengan 50% wanita akan hamil dalam 3 bulan, 75% akan hamil dalam 6 bulan dan 85% akan hamil dalam 1 tahun.

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa beberapa pasangan memang bukan infertil tetapi lebih dikategorikan subfertil, dimana mereka akan dapat mendapatkan kehamilan jika ada waktu yang lebih cukup dan kualitas dan kuantitas hubungan suami istri diperhatikan kembali. Pada kenyataannya tanpa keterlibatan terapi medis, sekitar setengah wanita yang mencari pertolongan untuk infertilitasnya akan hamil dalam dua tahun kemudian.

Secara perpektif global 1 dari 10 pasangan mengalami masalah infertilitas (Ombelet 2011), 50% di antaranya berkaitan dengan perempuan dan 35% berkaitan dengan laki-laki. Lima persen di antaranya karena masalah berdua dan 10% tidak jelas penyebabnya. Di Amerika Serikat sendiri 12% (7.3 juta) wanita usia 15-44 tahun pada tahun 2006-2010 pernah menggunakan fasilitas untuk kasus-kasus infertilitas.

shutterstock

Kaitan Psikologis

Menjadi orang tua masih menjadi idaman untuk pasangan di negara seperti Indonesia. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat sendiri pun terdapat hubungan antara ketidakmampuan memiliki anak dengan masalah emosional yang mungkin bisa dialami pasangan.

Banyak pasangan yang infertil mengalami penurunan rasa percaya diri dan depresi, lebih sering lagi adalah penurunan libido. Mereka juga dapat merasakan terisolasi dari teman-teman yang mulai sibuk dengan aktifitas yang berkaitan dengan anak-anak mereka. Masalah lain adalah menjalani terapi infertilitas bagaimanapun membutuhkan biaya yang tidak bisa dibilang sedikit dan perlu usaha serta pengorbanan non material yang tidak kecil.

Respon emosional berkaitan dengan masalah infertilitas bisa berkaitan dengan perasaan bersalah, rasa marah, menurunnya kepercayaan diri, disfungsi seksual, stres dalam rumah tangga dan isolasi sosial (Burns 2007).

Penelitian Bhongade tahun 2014 mengatakan laki-laki dengan tingkat kecemasan/depresi yang tinggi lebih memiliki kadar testoteron yang rendah dan jumlah sperma yang lebih kurang. Hal tersebut juga berkaitan dengan gerakan sperma dan morfologi bentuk dari sperma yang sangat berhubungan dengan kemampuan membuahi telur.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X