Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/11/2014, 06:45 WIB
EditorHindra Liauw
KOMPAS.com - Tahun 2014 ini genap 200 tahun Gubernur Jenderal Hindia Belanda Sir Thomas Stamford Raffles ”menyelamatkan” Candi Borobudur dari kerusakan untuk diperkenalkan ke dunia. Bagaimana memaknai 200 tahun penemuan kembali warisan dunia tersebut?

Raffles, seperti ditulis Daoed Joesoef dalam Borobudur (Penerbit Buku Kompas, 2004), menjabat Wali Negara Indonesia ketika negeri itu dikuasai Inggris tahun 1811-1816. Raffles sering melaksanakan kunjungan kerja di daerah. Ketika berkunjung ke Semarang, Jawa Tengah, tahun 1814, dia diberi tahu seseorang tentang keberadaan Candi Borobudur di Desa Bumisegoro, dekat Magelang, Jawa Tengah.

Raffles tidak pernah melihat sendiri candi Buddha terbesar di dunia itu. Raffles mengutus seorang Belanda, Cornelius, untuk meninjau lokasi. Dibantu 200 orang warga desa, Cornelius membersihkan situs dari semak belukar dan timbunan tanah.

Laporan kerja Cornelius tersebut menjadi bahan penting oleh Raffles dalam menyusun bukunya Sejarah Jawa yang terbit tahun 1817. Berkat uraian di buku ini, Candi Borobudur mulai dikenal dunia. Berbagai penelitian dan pemugaran dilakukan sejak itu.

Pada 1991, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengukuhkan Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia.

Sekarang, 200 tahun sejak ditemukan kembali, fisik Candi Borobudur masih menghadapi ancaman kerusakan serius. Seiring berjalannya waktu, kondisi situs warisan dunia ini semakin rentan dengan cuaca ataupun ulah manusia.
Tergerus

Kepala Balai Konservasi Borobudur Marsis Sutopo, seperti dikutip Kompas, Senin (17/11), mengungkapkan, setelah puluhan tahun dikunjungi jutaan wisatawan, bagian tangga Borobudur terus-menerus aus tergerus pijakan kaki manusia.

Selain mengakibatkan keausan bebatuan, kehadiran para pengunjung juga mendatangkan debu dan kotoran yang menempel di lantai, dinding, dan relief candi. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir Borobudur juga terancam abu vulkanik dari Gunung Merapi dan Gunung Kelud.

Untuk mencegah kerusakan lebih serius, seperti dilaporkan Kompas.com, Senin, Pemerintah Jerman bekerja sama dengan UNESCO Perwakilan Indonesia dan Balai Konservasi Borobudur melakukan konservasi struktural dan penelitian terhadap kondisi terkini bebatuan Candi Borobudur.

Hans Leisen, Ketua Tim Ahli dari Jerman, memaparkan, tim terdiri atas tujuh anggota yang memiliki berbagai disiplin ilmu, seperti geologi dan kimia.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+