Pasien Kanker Antre Terapi Radiasi sampai Satu Tahun

Kompas.com - 07/11/2014, 14:28 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

YOGYAKARTA, KOMPAS — Para penderita kanker di Tanah Air mengantre lama untuk mendapat layanan terapi radiasi atau radioterapi, bahkan ada yang menunggu sampai satu tahun. Hal itu karena alat radioterapi sedikit, sedangkan jumlah pasien berobat naik seiring penerapan Jaminan Kesehatan Nasional.

Ketua Perhimpunan Onkologi Radiasi Indonesia Soehartati Gondhowiardjo mengemukakan hal itu di sela-sela acara European Society for Radiotherapy and Oncology (ESTRO) School, Selasa (4/11), di Yogyakarta.

”Setelah ada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), jumlah penderita kanker yang memeriksakan diri bertambah, sementara peralatan radioterapi belum bertambah. Itu mengakibatkan pasien kanker antre lama untuk radioterapi,” kata Soehartati.

Radioterapi merupakan salah satu metode terapi bagi penderita kanker. Terapi dilakukan memakai radiasi yang bersumber pada energi radioaktif.

Soehartati menyatakan, sebanyak 60-70 persen pasien kanker butuh radioterapi yang kadang dikombinasikan dengan jenis terapi lain. Menurut sejumlah riset, keberhasilan radioterapi dalam mengontrol kanker sekitar 50 persen.
Jaminan berobat

Setelah JKN diberlakukan mulai 1 Januari 2014, banyak pasien kanker berani memeriksakan diri ke rumah sakit karena mendapat jaminan pengobatan. Mayoritas pasien butuh radioterapi. Karena jumlah alat radioterapi sedikit, para pasien mengantre lama untuk mendapatkan layanan terapi tersebut.

”Di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, saat ini ada sekitar 200 pasien antre menjalani radioterapi,” kata Soehartati yang juga Kepala Departemen Radiologi RS Umum Pusat Cipto Mangunkusumo. Antrean pasien itu terjadi karena keterbatasan peralatan radioterapi di RS rujukan nasional tersebut.

Di RS Umum Pusat Dr Sardjito, Yogyakarta, pasien antre layanan radioterapi sampai satu tahun. Itu terjadi sejak dua bulan lalu. ”Kalau ada pasien mendaftar radioterapi hari ini di RSUP Dr Sardjito, dia baru bisa diterapi Januari 2016. Padahal, tahun lalu masa tunggu hanya empat bulan,” kata dokter spesialis onkologi RSUP Sardjito, Wigati Dhamiati.

Pada 2011, jumlah pasien yang mendaftar radioterapi di RSUP Dr Sardjito 1.237 orang, tetapi yang bisa diterapi 707 orang (57,2 persen). Pada 2012, dari 1.250 pasien yang butuh radioterapi, hanya 904 orang (72 persen) yang bisa dirawat. Tahun lalu, jumlah pasien yang mendaftar radioterapi 1.420 orang, sedangkan yang mendapat layanan 856 orang (60,3 persen).

”Kami hanya punya dua alat radioterapi dan kemampuannya menurun. Pada kondisi tertentu, kami harus menyeleksi dengan mengutamakan pasien yang potensi kesembuhannya tinggi,” kata Wigati. Harga satu alat radioterapi Rp 15 miliar.

Terkait kondisi itu, Soehartati berharap pemerintah menambah jumlah peralatan radioterapi di Indonesia. Sebab, keterlambatan menjalani terapi itu akan membuat potensi kesembuhan pasien kanker mengecil. ”Kalau radioterapi terlambat, stadium kanker seorang pasien bisa meningkat,” ujarnya. (HRS)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X