Berapa Lama Harus Berobat ke Psikiater?

Kompas.com - 21/10/2014, 10:27 WIB
shutterstock
|
EditorLusia Kus Anna

Beberapa bulan yang lalu saya menangani beberapa kasus depresi berat yang membuat  pasiennya tidak bisa bekerja dan kualitas hidupnya turun drastis. Di antara sekian kasus depresi yang saya tangani, dua kasus gangguan depresi berat yang saya tangani ini menarik untuk dijadikan contoh karena berkaitan dengan terapi yang dihentikan sepihak oleh pasien tanpa saran dokter.

Sebenarnya kasus-kasus depresi berat bukanlah kondisi yang jarang ditemukan di praktek psikiater. Pasien dengan depresi berat merupakan “kerjaan” psikiater sehari-hari. Depresi berat bukan hanya membahayakan karena sering kali dibarengi dengan upaya bunuh diri dari pasiennya, tetapi juga sangat menurunkan kualitas hidup pasien yang mengalaminya.

Beberapa bulan yang lalu saya menangani dua kasus depresi berat yang dialami oleh perempuan usia 40-an awal. Mereka mengalami depresi berat dengan pemicu kondisi pekerjaan yang memiliki tekanan yang berat. Pasien perempuan pertama selain mengalami gejala-gejala depresi yang berat juga mengalami kecemasan yang luar biasa.

Pasien merasakan kehidupannya hampa dan merasa putus harapan. Dia tidak yakin bisa kembali normal seperti sedia kala. Saat sedang dalam terapi awal pasien sering kali BBM menanyakan tentang gejalanya yang timbul. Sehari bisa BBM sampai 3-5 kali kepada saya untuk mengkonfirmasi gejala dan menanyakan apakah bisa sembuh.

Pasien kedua mengalami depresi berat dan disadari oleh keluarganya. Pasien sendiri tidak mau keluar dari kamar dan kerjanya hanya tidur-tiduran saja. Energi dirasakan tidak ada lagi dan pasien beberapa kali mengatakan ingin mati saja.

Pada masa awal pengobatan (initial treatment) pasien masih mengalami gejala-gejala yang tidak nyaman berkaitan dengan cemas dan depresinya. Berulang kali pasien menanyakan mengapa dirinya masih belum kembali normal. Pada fase berikutnya, ketika obat sudah mulai dimakan selama 8 minggu, pasien mulai merasakan perubahan.

Pasien depresi yang gejala cemasnya dominan mulai merasakan cemasnya sudah jauh berkurang walaupun semangatnya belum pulih seperti sedia kala. Pasien yang diam di kamar terus sudah mulai mau keluar kamar dan menanyakan kepada keluarga tentang kondisi rumah.

Tiga bulan setelah memakai obat pasien sudah mulai merasakan perubahan signifikan. Gejala kecemasan dan depresi pasien pertama sudah tidak dirasakan lagi dan aktifitas kembali normal. Pasien kedua sudah mulai mau ke kantor kembali dan memasak untuk keluarganya. Sayangnya pasien kemudian menghentikan pengobatan dan tidak kontrol lagi.

Obat Teratur

Antidepresan sebagai bagian dari terapi depresi memang bukan satu-satunya modalitas dalam terapi. Namun demikian penggunaan antidepresan sebagai terapi depresi telah dibuktikan secara ilmiah memberikan manfaat dalam perbaikan pasien.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X