Mengapa Kesembuhan Pasien Gangguan Jiwa Berbeda?

Kompas.com - 09/10/2014, 15:18 WIB
Shutterstock Ilustrasi depresi

Saya sering sekali ditanyakan pasien saat awal pertama bertemu di klinik tentang kapan pasien bisa sembuh total dari gangguan jiwa yang dialaminya. Kadang pasien sambil malu-malu bertanya, "Emangnya sakit jiwa ya saya dok? Kan saya cuma cemas-cemas aja!".

Tentunya memang tidak mudah menerima bahwa seseorang mengalami gangguan jiwa, keliatannya seram sekali penyakit medis yang satu ini. Apalagi jika ditambah kepikiran bahwa mungkinkah bisa normal seperti sedia kala.

Kasus-kasus gangguan jiwa yang saya tangani sehari-hari memang seragam. Kebanyakan pasien datang ke saya karena keluhan psikosomatik yang didasari oleh kondisi cemas dan depresi. Berbagai macam latar belakang pasien dengan keluhan yang sama membuat saya bisa memberikan saran kepada pasien bahwa walaupun gejalanya sama bahkan diagnosisnya sama, belum tentu pengobatan dan sembuhnya sama.

Ada hal-hal tertentu yang kita harus perhatikan jika berbicara tentang suatu proses terapi menuju kesembuhan. Lebih jauh lagi kita memahami bahwa kesembuhan dalam ilmu kedokteran jiwa mungkin agak sedikit berbeda dengan pandangan ilmu penyakit medis lainnya.

Sembuh Kok Masih Makan Obat?

Pasien sering bertanya, "katanya saya sudah sembuh tapi kok masih diminta makan obat?". Memang kesembuhan dalam ilmu kedokteran jiwa lebih berarti kalau gejala pasien terkontrol dengan pengobatan. Sering saya mendapatkan pasien yang merasa dirinya masih sakit karena masih makan obat, padahal kalau dilihat kualitas pasien membaik dengan pengobatan. Masalahnya adalah bahwa dia merasa kok baiknya dengan makan obat, pasien ingin lepas dari obat intinya.

Padahal sebenarnya banyak masalah medis yang membutuhkan pemakaian obat lama selain masalah kesehatan jiwa. Penyakit kronis seperti hipertensi (darah tinggi), diabetes (gula darah), jantung adalah sebagian kecil penyakit yang membutuhkan pemakaian obat lama. Masalahnya pasien bisa lebih menerima dibilang sakit medis tersebut dan harus makan obat lama daripada dikatakan sakit jiwa dan harus makan obat dalam waktu lama. Lagi-lagi stigma gangguan jiwa memang lebih tidak nyaman buat orang menderitanya bahkan untuk profesi psikiater sendiri.

Penggunaan obat pada gangguan jiwa sering kali membutuhkan waktu. Apalagi untuk kasus-kasus tertentu seperti skizofrenia, demensia, bipolar dan beberapa kasus depresi dan kecemasan. Tentang hal ini telah pernah saya bahas di artikel saya yang lain. Saat ini kita coba melihat mengapa pasien dengan diagnosis yang sama tapi kok sembuhnya berbeda. Apa faktor-faktor yang berpengaruh?

Genetik Bawaan

Sering orang lebih mengartikan bahwa yang dimaksud dengan genetik bawaan ini adalah bawaan keturunan. Namun yang dimaksud adalah faktor genetik bawaan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Analoginya saya sering mengatakan seorang yang merokok dan mengalami kanker paru-paru itu tidak semua, ada faktor genetik bawaan yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker. Tidak heran tidak semua orang merokok mengalami kanker paru-paru. Begitu juga dengan gangguan jiwa, tidak semua orang yang mengalami masalah tekanan dalam hidupnya akan mengalami gangguan jiwa.

Faktor Psikologi

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


EditorLusia Kus Anna
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X