Rapor Merah Kualitas Kesehatan Indonesia

Kompas.com - 08/10/2014, 07:40 WIB
Warga antre menunggu dibukanya loket pendaftaran BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat, Senin (7/7/2014). ANGGA BHAGYA NUGRAHAWarga antre menunggu dibukanya loket pendaftaran BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat, Senin (7/7/2014).
|
EditorLusia Kus Anna


JAKARTA, KOMPAS.com
- Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari angka harapan hidupnya. Untuk urusan kesehatan, Indonesia ternyata masih kalah dibanding negara tetangga.  Terkait angka harapan hidup di Asia, Indonesia berada di urutan keenam setelah Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand, dan Vietnam. Adapun angka harapan hidup dapat diukur melalui angka kematian ibu, angka kematian bayi dan balita.

Hal ini diungkapkan Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Kesehatan Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal, Hanibal Hamidi. Menurut dia, untuk mengatasi hal ini, Indonesia harus melakukan revolusi kesehatan.

"Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat perlu rekonstruksi total sistem kesehatan nasional yang memastikan bahwa seluruh faktor yang menetukan atau berkolerasi dengan kualitas kesehatan yang diukur dengan angka harapan hidup. Rekonstruksi ini disebut sebagai revolusi kesehatan," ujar Hanibal dalam diskusi Revolusi Kesehatan menuju Revolusi Mental di Universitas Indonesia, Depok, Selasa (7/10/2014).

Indonesia juga dinilai gagal dalam pemenuhan gizi bayi dan balita. Data terakhir tahun 2011, terdapat 17 provinsi yang memiliki penderita kurang gizi di atas angka nasional 17,9 persen. Rendahnya kualitas kesehatan juga dapat dilihat dari kurangnya rumah tangga yang mampu mengakses air bersih yang layak. Rumah tangga yang mampu mengakses sanitasi juga rendah.

Hanibal mengatakan, saat ini ketersediaan air bersih dan sanitasi tidak masuk dalam sistem kesehatan nasional. Padahal, menurut dia kedua hal itu merupakan kebutuhan pasti dari masyarakat dan berkaitan dengan kualitas kesehatan.

Selain itu, sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar, seperti puskesmas kurang berfungsi optimal. Mulai dari kurangnya fasilitas hingga tenaga kesehatan. Hal ini diperkuat dengan rendahnya anggaran kesehatan yang belum mencapai 5 persen dari APBN dan 10 persen dari APBD.

Menurut Hanibal, saat ini ada lima faktor yang harus menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan. Kelimanya yaitu, penyediaan dokter tiap desa, penyediaan bidan, air bersih, sanitasi, dan gizi seimbang untuk ibu hamil, menyusui, bayi, dan balita.

"Jadi dilakukan pembangunan nasional berwawasan kesehatan berbasis pedesaan yang bisa dilakukan melalui revitalisasi puskesmas sebagai ujung tombak peningkatan kualitas kesehatan masyarakat," terang Hanibal.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X