Kompas.com - 01/10/2014, 07:00 WIB
Burung Celepuk Sulawesi atau Manguni (Otus manadensis) yang bisa dijumpai di kawasan wisata Mahawu, Kota Tomohon, Sulawesi Utara KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOLBurung Celepuk Sulawesi atau Manguni (Otus manadensis) yang bisa dijumpai di kawasan wisata Mahawu, Kota Tomohon, Sulawesi Utara
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Ribuan keanekaragaman hayati Indonesia menanti ditemukan dan dimanfaatkan. Pendanaan yang cukup menjadi kunci.

Rosichon Ubaidillah, Kepala Direktur Museum Zoologi Bogor (MZB) mengatakan dalam acara open house perayaan museum tersebut pada Selasa (30/9/2014).

"Saat ini kami terus melakukan upaya agar (keanekaragaman hayati) terus dieksplorasi," katanya.

Sejumlah wilayah Indonesia belum dieksplorasi secara optimal. Wilayah-wilayah itu antara lain Sulawesi, Ambon, Maluku, Halmahera, dan Papua.

Rosichon memerkirakan, Indonesia menyimpan ribuan spesies yang belum terungkap oleh ilmu pengetahuan.

“Jumlah reptil sekarang sedikit sekali. Dugaan saya masih ada 400-500 juga yang belum terdeteksi,” katanya.

Ia menambahkan, untuk amfibi, ada 200-300 spesies yang belum terungkap. Arthopoda sekitar 50 hingga 100 spesies, seratusan burung, dan 100 - 200 ribu spesies serangga.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara, diperkirakan masih ada 1000 spesies ikan air tawar, 2000 spesies mollusca, dan 100 - 500-an spesies mamalia kecil yang juga masih belum diketahui eksistensinya.

Rosichon mendasarkan perkiraannya pada jumlah koleksi hewan saat ini dan perkiraan jumlah spesies di dunia saat ini.

Sebagai contoh, bila ada 10 juta spesies serangga yang ada di dunia, yang terdata hanya sekitar 1 juta. Diantara yang belum dan sudah terdata, 10 persen pasti ada di Indonesia.

Untuk mengungkap kenakekaragaman hayati yang besar, dana yang cukup dibutuhkan. Menurut Rosichon, dana penelitian bisa diupayakan dari dana lain yang tak efektif penggunaannya.

Jika riset dilakukan, ia meyakini jumlah spesies di Indonesia akan meningkat 3-4 kali lipat dalam 10 tahun mendatang.

Saat ini, MZB menyimpan 3.015.846 spesimen. Museum ini menjadi ayng terlengkap di Asia Tenggara.

Spesimen terdiri dari 2.484 jenis moluska, 134 jenis nematoda, 20-30 ribu jenis serangga, 780 spesies krustasea, 1.200 jenis ikan, 498 jenis reptil, 334 jenis amfibi, dan 1.100 jenis burung serta 470 jenis mamalia.




Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

Kita
Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X