Ilmuwan Dapat Ig Nobel karena Teliti Alasan Kulit Pisang Licin

Kompas.com - 21/09/2014, 16:43 WIB
Anda hanya perlu menggosok-gosok kulit pisang tersebut dengan gerakan memutar pada peralatan perak. Setelah itu, bilas dengan air hangat. Kini, barang perak Anda dapat terlihat baru. shutterstock.comAnda hanya perlu menggosok-gosok kulit pisang tersebut dengan gerakan memutar pada peralatan perak. Setelah itu, bilas dengan air hangat. Kini, barang perak Anda dapat terlihat baru.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Anda sering melihat adegan orang terpeleset kulit pisang di film-film? Seorang peneliti berhasil menemukan alasan ilmiah kenapa kulit pisang licin.

Hasil penelitian itu juga memenangi penghargaan Ig Nobel, sebuah penghargaan parodi atau lelucon yang terinspirasi dari penghargaan Nobel.

Ig Nobel biasanya diberikan sebagai penghargaan pada penelitian yang unik dan di luar kebiasaan.

Penghargaan ini telah menjadi hampir setenar Nobel dan tahun ini acara penghargaan tahunan dilakukan di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Penelitian serius

Pemenang Ig Nobel, yaitu tim Kiyoshi Mabuchi asal Jepang, mengukur gesekan kulit pisang di laboratorium, dan menunjukkan mengapa apel dan kulit jeruk tidak begitu berbahaya.

Untuk penelitiannya itu, kelompok Universitas Kitasato ini menerima penghargaan fisika Ig.

Mungkin ini terdengar konyol ketika pertama kali mendengarnya, tetapi jika pelajari lebih dalam, ternyata ada hal yang cukup serius.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ada sebuah gel organik yang membuat kulit pisang licin dan gel tersebut juga ditemukan pada membran di mana dua tulang manusia bertemu.

"Konsep ini akan membantu ilmuwan mendesain prostesis sendi," ungkap Kiyoshi Mabuchi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X