Berkawan dengan Depresi, Cegah Bunuh Diri

Kompas.com - 10/09/2014, 10:21 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi
|
EditorLusia Kus Anna


Judul artikel saya di atas mungkin mengejutkan bagi sebagian orang, apalagi yang tidak pernah bersinggungan dengan pasien-pasien gangguan jiwa. Lebih banyak lagi mungkin yang menganggap depresi adalah suatu gangguan kejiwaan yang erat dengan kegilaan. Suatu asumsi yang sama sekali salah.

Setiap tahunnya 800.000 orang meninggal karena bunuh diri. Itu artinya ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri setiap 40 detik di dunia ini. Laporan dari tahun 2012 menyebutkan bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor lima dari orang yang berusia 30-49 tahun. Secara umum data tahun 2012 mengatakan bahwa dari 20 kali percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang, satu berhasil bunuh diri. Data tahun 2012 juga yang mengatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab ke-15 terbanyak sebab meninggal seseorang (1.4%).

Multifaktorial

Berbicara tentang bunuh diri tentunya tidak semudah mengatakan bahwa hal ini diakibatkan karena kurangnya iman atau keegoisan dari si pelakunya. Gangguan jiwa terutama depresi dan penyalahgunaan zat adiktif seperti alkohol menyumbang peran dalam terjadinya bunuh diri. Pemahaman dan kesadaran kita sendiri akan bunuh diri mungkin masih sangat kurang. Keprihatinan hanya yang bisa kita lakukan tapi tidak banyak yang mungkin kita bisa perbuat.

Masalah gangguan jiwa sangat berhubungan dengan banyak faktor. Tidak semua masalah gangguan jiwa terkait dengan masalah psikologis dan sosial lingkungan. Faktor biologis juga mempunyai peranan penting. Itulah mengapa tidak semua orang yang mengalami tekanan dalam hidupnya akan menjadi depresi. Kemampuan adaptasi, faktor genetik bawaan dan dukungan lingkungan akan sangat mempengaruhi terjadinya depresi pada seseorang.

Gangguan depresi merupakan gangguan jiwa yang sering dialami oleh seseorang. Banyak penelitian mengungkapkan angka kejadian depresi berkisar antara 10-15% dari berbagai penelitian populasi. Bahkan pada pasien yang mengalami kondisi medis umum yang berat dan kronis (lama), angka kejadian depresi bisa mencapai lebih dua kali lipatnya. Secara global Depresi lebih sering dialami oleh wanita daripa laki-laki dengan perbandingan 2 : 1. Selain Depresi unipolar (lebih sering disebut Depresi saja atau Major Depressive Disorder dalam bahasa inggris) terdapat juga Depresi pada pasien Gangguan Bipolar.

Kita tentu masih ingat baru-baru ini banyak kejadian dihubungkan dengan Gangguan Bipolar. Kematian aktor terkenal Robin Williams tentunya sangat disayangkan apalagi Robin meninggal karena bunuh diri. Riwayat penggunaan alkohol yang panjang, gangguan bipolar dan episode depresi yang panjang telah merengut jiwa aktor dan komedian yang telah banyak membuat tertawa banyak orang. Sungguh ironis kenyataan yang terdapat pada pasien-pasien gangguan depresi dan gangguan bipolar.

Stigma Gangguan Jiwa

Upaya peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang gangguan jiwa sering kali mengalami masalah. Stigma yang melekat kuat pada pasien-pasien gangguan jiwa sering kali menjadi penyebabnya. Stigma GILA bukan hanya disematkan oleh orang yang awam akan kesehatan namun juga kalangan tenaga kesehatan seperti dokter dan paramedik juga tidak lepas dari pemahaman yang salah dan menjadi stigma gangguan jiwa.

Gangguan jiwa selalu diidentikan dengan kegilaan. Ketika menyebut gangguan jiwa kebanyakan orang akan berpikir ke suatu kondisi gangguan yang membuat seseorang  selalu hilang akal dan tampak kacau balau. Gangguan jiwa seperti selalu merujuk pada suatu kondisi  di luar medis dan membahayakan. Padahal banyak sekali tipe gangguan jiwa yang ada dan beberapa di antaranya bisa sangat dikontrol dengan terapi yang tepat.

Sayangnya sering kali keluarga terdekat pasien juga menstigma pasien yang mengalami gangguan depresi. Rasa malu memiliki keluarga yang mengalami masalah kejiwaan membuat sering kali pertolongan pengobatan menjadi terhambat. Banyak kasus gangguan depresi terlambat untuk ditangani karena mengalami penundaan akibat pasien dan keluarganya tidak mau membawa pasien ke dokter jiwa.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X