Pakai Helm Ini, Kantuk Tak Lagi Jadi Ancaman di Jalan

Kompas.com - 26/08/2014, 06:41 WIB
Ilustrasi helm. Ilustrasi helm.
EditorPalupi Annisa Auliani
SURABAYA, KOMPAS.com - Mengantuk saat mengemudi kerap kali berakhir celaka. Sebuah helm antikantuk dirancang dengan memanfaatkan teknologi sensor getaran, oleh dua mahasiswa Universitas Surabaya. Rancangan ini pun sudah mendapat penghargaan internasional.

Helm antikantuk tersebut memanfaatkan denyut nadi sebagai pemicu getaran. Dirancang oleh dua mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Surabaya, Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan, helm ini mendapat medali emas International Invention Inovation and Design di Universiti Teknologi Mara, Segamat, Johor, Malaysia.

Sekilas dilihat, helm ini tak berbeda dengan helm kebanyakan. Hanya tampak kabel sepanjang 1 meter yang menjulur ke luar helm, sementara perangkat modular tersimpan rapi di dalamnya. Ricky mengatakan helm tersebut mereka namai Anti Drowsing System (Androsys).

Berdasarkan denyut nadi

Ricky menjelaskan, denyut nadi seseorang dalam kondisi normal adalah 80 denyut per menit. Jumlah ini akan menurun ketika orang tersebut mengantuk. Ketika jumlah denyut nadi itu menyusut, ujar dia, saat itulah Androsys bekerja.

Bila denyut nadi yang terukur kurang dari 80 denyut per menit, kata Ricky, maka mikro-controler di dalam peralatan Androsys akan mengirimkan pesan ke vibrator. Mendapat pesan itu, vibrator yang dilekatkan pada bagian dalam di sisi atas helm bergetar. ”Getaran inilah yang berfungsi agar pemakainya tidak jadi mengantuk,”kata Ricky, Senin (25/8/2014).

Rangkaian Androsys ini terdiri dari tiga bagian, yakni input, prosesor, dan vibrator. Bagian input berupa sensor denyut nadi, yang akan dipasang pada tangan atau leher, bagian tubuh seseorang yang teraba denyut nadinya.

Hasil bacaan sensor ini dikirimkan ke prosesor berupa mikro-controler yang berfungsi menghitung denyut nadi dan mengirimkan pesan getaran ke vibrator tersebut. Bagi pengendara yang sudah mengantuk berat, getaran itu bisa dipakai tanda sehingga dia berhenti mengendarai motornya.

”Saya sudah mencoba helm ini, dan ternyata memang benar, ketika mengantuk langsung ada getaran sehingga rasa kantuknya langsung hilang,” kata Kristiawan menimpali. Menurut dia, ide awal pembuatan helm ini muncul saat dia mengikuti kuliah Design Project.

Pada saat bersamaan, kata Kristiawan, ada berita yang menyebutkan mengantuk menjadi penyebab tertinggi terjadinya kecelakaan. Dia mengutip, pada Lebaran 2013 misalnya, tercatat 3.657 kecelakaan yang terjadi akibat pengendara kendaraan mengantuk.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X