Goa Harimau Dihuni 14.000 Tahun

Kompas.com - 28/05/2014, 19:32 WIB
Tim penelitian arkeologi Goa Harimau sedang melakukan penggantian rangka cetakan tiruan Homo sapiens di Situs Goa Harimau, Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Senin (26/5). Pemasangan kerangka tiruan dilakukan sama seperti kondisi aslinya, sedangkan kerangka asli sebagian telah diangkat dan dipindahkan ke Museum Si Pahit Lidah di Desa Padang Bindu. Aloysius Budi KurniawanTim penelitian arkeologi Goa Harimau sedang melakukan penggantian rangka cetakan tiruan Homo sapiens di Situs Goa Harimau, Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Senin (26/5). Pemasangan kerangka tiruan dilakukan sama seperti kondisi aslinya, sedangkan kerangka asli sebagian telah diangkat dan dipindahkan ke Museum Si Pahit Lidah di Desa Padang Bindu.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Peneliti masih menemukan artefak-artefak prasejarah di kedalaman hingga 4,8 meter pada ekskavasi ketujuh di Situs Goa Harimau, Desa Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Penemuan itu menunjukkan, Goa Harimau pernah dihuni Homo sapiens selama lebih dari 14.825 tahun lalu.

Pada ekskavasi keenam Situs Goa Harimau pada 2013, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional berhasil mengidentifikasi lapisan tanah berusia 14.825 tahun pada kedalaman 2 meter. Begitu digali lagi hingga 4,8 meter pada Mei 2014, masih didapati serpihan batu obsidian, alat pipisan, dan alat tumbuk.

”Aktivitas penguburan Homo sapiens di goa ini sampai pada kedalaman 1,2 meter. Di bawahnya, kami menemukan tulang belulang hewan, seperti ikan, monyet, babi, rusa, landak, badak, kerang, gading gajah, hingga kerbau. Di bagian paling bawah, terdapat artefak berupa serpihan batu obsidian, alat pipisan, dan alat tumbuk,” kata Koordinator Lapangan Ekskavasi Goa Harimau M Ruly Fauzi dari Center of Prehistory and Austronesian Studies, Selasa (27/5/2014), di Padang Bindu, Semidang Aji, Ogan Komering Ulu, Sumsel.

Olah hewan buruan

Menurut Ruly, yang mengindikasikan artefak-artefak itu buatan Homo sapiens ialah sebagian serpihan memiliki sisi tajam yang berfungsi sebagai alat pemotong. Selain itu, terdapat pula tulang fauna yang diduga dikonsumsi menggunakan alat-alat tersebut.

”Kami juga menemukan kerang-kerangan yang pecah, dibakar, dan dipotong. Jejak-jejak pecahnya masih segar sehingga diduga kuat hewan-hewan itu dikonsumsi manusia,” kata dia.

Ahli arkeologi fauna dari Center for Prehistory and Austronesian Studies, Mirza Ansyori, menemukan jejak pengolahan hewan buruan oleh Homo sapiens di Goa Harimau. Berdasarkan bentuk tulang, beberapa fauna, seperti landak dan ikan air tawar, tampak diolah menggunakan alat pemotong batu.

”Dugaan kami, hewan-hewan besar, seperti monyet, babi, rusa, landak, dan kerbau, juga mereka konsumsi. Bahkan, kami menemukan gigi dan tulang kaki badak, beruang, dan kucing besar di Goa Harimau,” ujar Mirza.

Keberadaan jejak tulang ikan air tawar tak mengherankan karena Goa Harimau berada sekitar 30 meter di atas sungai Air Kaman Basa dan hanya berjarak 1,5 kilometer dari Sungai Ogan. Jenis kerang-kerangan laut ditemukan pula di sekitar kerangka yang dimanfaatkan sebagai bekal kubur.

Pengarah Ekskavasi Goa Harimau dari Pusat Arkeologi Nasional Prof Harry Truman Simanjuntak mengatakan, ekskavasi vertikal terus dilakukan hingga penggalian mencapai bagian dasar goa. ”Sebagian besar hasil ekskavasi kami angkat dan pindahkan ke Museum Si Pahit Lidah di Padang Bindu. Kami menyisakan lima kerangka yang tidak tersentuh bahan-bahan kimiawi untuk penelitian lanjutan,” kata Truman.

Untuk memastikan alur genetika Homo sapiens di Goa Harimau, Pusat Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Peneliti telah mengambil sampel gigi dan tulang Homo sapiens di Goa Harimau. (ABK/KOMPAS CETAK)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X