Infeksi pada Anak-anak Masih Bermunculan

Kompas.com - 20/05/2014, 15:43 WIB
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (kanan) melihat kondisi bayi berusia 1,5 bulan yang telah menerima vaksin Rotavirus (RV3) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (2/3/2013). Vaksin tersebut mulai diujicobakan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Sleman dan Klaten, Jawa Tengah, selama 33 bulan. Vaksin ini dikembangkan untuk mengurangi risiko kematian bayi akibat diare yang disebabkan oleh Rotavirus. 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOMenteri Kesehatan Nafsiah Mboi (kanan) melihat kondisi bayi berusia 1,5 bulan yang telah menerima vaksin Rotavirus (RV3) di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (2/3/2013). Vaksin tersebut mulai diujicobakan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Sleman dan Klaten, Jawa Tengah, selama 33 bulan. Vaksin ini dikembangkan untuk mengurangi risiko kematian bayi akibat diare yang disebabkan oleh Rotavirus.
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Berbagai penyakit yang bisa dicegah melalui imunisasi terus bermunculan. Sebagian besar penyakit itu menyerang anak-anak. Hal ini disebabkan rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap di sejumlah provinsi. Untuk itu, pemerintah melaksanakan program layanan imunisasi yang menjangkau daerah-daerah terpencil.

Direktur Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Desak Made Wismarini mengemukakan hal itu, Senin (19/5), di Jakarta.

Made mengatakan, pemerintah tak hanya menargetkan cakupan imunisasi yang tinggi, tetapi juga cakupan yang merata. ”Pemerataan cakupan imunisasi hingga ke tingkat desa menjadi perhatian pemerintah,” kata dia.

Namun, kenyataannya cakupan imunisasi menghadapi tantangan berat. Dari 33 provinsi, ada 19 provinsi yang capaian cakupan imunisasi dasar lengkapnya di bawah angka nasional (90 persen). Tidak meratanya cakupan imunisasi dasar lengkap itu menyebabkan risiko infeksi penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi tetap besar.

Menurut Made, kondisi itu disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan pentingnya imunisasi, pengaruh kelompok anti imunisasi, dan kekhawatiran efek imunisasi. Aspek geografis juga memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi. Sebagai negara kepulauan, banyak wilayah di Tanah Air yang sulit dijangkau.

Untuk itu, pemerintah berupaya meningkatkan cakupan imunisasi dengan beberapa cara, antara lain melalui program layanan penjangkauan berkelanjutan (sustainable outreach services/SOS) untuk menjangkau daerah terpencil. Seorang anak di daerah yang sulit diakses hanya empat kali berkunjung ke penyedia layanan kesehatan untuk diimunisasi. Di daerah yang tidak terpencil, seorang anak biasanya lima kali berkunjung.

Upaya lain adalah pemberian vaksin kombinasi (pentavalen) DPT-HB-Hib yang telah dimulai di empat provinsi pada 2013. Hal itu dinilai lebih efektif dan efisien. Jadi, satu vaksin mengandung lima antigen untuk mencegah penyakit tuberkulosis, pertusis, difteri, hepatitis B, dan pneumonia. Pemberian vaksin pentavalen menyeluruh di semua provinsi dilakukan pada 2014.
Komplikasi campak

Nastiti Kuswandani, dokter spesialis anak dari Divisi Respirologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), menyatakan, jumlah kasus penyakit komplikasi campak yang naik adalah radang paru. Dalam sebulan, ada 1-2 kasus baru radang paru sebagai komplikasi campak. ”Selain mencegah penyakit bagi anak, imunisasi memperkuat kesehatan komunitas,” kata dia.

Salah satu penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi yang banyak muncul adalah difteri. Pada 2008-2012, angka kasus difteri naik signifikan (218 kasus tahun 2008 menjadi 1.192 kasus di 2012), disertai kenaikan angka kematian (dari 14 penderita meninggal pada 2008 menjadi 76 pasien pada 2012). Pada 2008-2011, mayoritas kasus menyerang kelompok usia 1-4 tahun dan 5-9 tahun. Pada 2012, difteri umumnya dialami kelompok anak usia 5-9 tahun dan di atas 14 tahun.

Lebih dari 50 persen kasus di tahun 2012 terjadi akibat tidak mendapat imunisasi. Pada tahun sama, kasus difteri ditemukan di 19 provinsi, jumlah kasus terbanyak ada di Jawa Timur, yakni 954 kasus atau 79,5 kasus.

Selain itu, penularan campak masih terus terjadi. Sepanjang 2012, ada 160 kejadian luar biasa campak dengan 2.319 kasus dan empat pasien meninggal. Kasus penularan campak kebanyakan terjadi di Pulau Jawa (Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten). Masalah itu harus segera dituntaskan untuk mencapai target eliminasi campak pada 2018.

Mayoritas kasus campak pada 2008-2012 menyerang kelompok umur 5-9 tahun. Pada 2007 dan 2010, penderita campak justru anak usia 1-4 tahun. (ADH)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X