Kompas.com - 14/05/2014, 18:06 WIB
Sperma raksasa tertua ditemukan di Australia. Ukuran sperma itu terbilang besar, lebih panjang dari organisme pemiliknya dan manusia. Renate Matzke-KaraszSperma raksasa tertua ditemukan di Australia. Ukuran sperma itu terbilang besar, lebih panjang dari organisme pemiliknya dan manusia.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Sperma raksasa berusia 17 juta tahun ditemukan di situs Riversleigh, dekat Queensland, Australia. Sperma raksasa itu adalah milik organisme golongan ostracoda, sejenis udang-udangan, kadang disebut udang biji.

Bersama sel sperma, ditemukan juga organ Zenker, organ berbahan kitin, berfungsi mentransfer sperma kepada betina, yang terawetkan dengan baik. Panjang sperma ostracoda 1,3 mm, sedikit lebih besar dari ukuran ostracoda itu sendiri dan 23 kali lebih besar dari sperma manusia (sekitar 0,055 mm).

"Ini adalah fosil sperma tertua yang pernah ditemukan," kata Mike Archer, peneliti Sekolah Biologi, Kebumian, dan Lingkungan, Universitas New South Wales, yang telah mengekskavasi Riversleigh selama 35 tahun.

Cerita penemuan fosil sperma tertua itu bermula ketika Archer bersama rekannya, Suzanne Hand dan Henk Godthelp, mengoleksi spesimen ostracoda dari situs Bitesantennary di Riversleigh pada tahun 1988.

Sampel itu lalu dikirim kepada John Neil, spesialis ostracoda dari La Trobe University. Neil bekerja sama dengan spesialis lain, Renate Matzke-Karasz dari Ludwig Maximilian University, di Munich, dan Paul Tafforeau dari European Synchrotron Radiation Facility di Perancis.

Analisis mikroskopik pada spesimen menunjukkan bahwa organ dalam makhluk itu masih dalam kondisi baik. Dalam organ dalam itu, ilmuwan menemukan sperma raksasa beserta inti sel-nya yang mengandung materi genetik.

"Sekitar 17 juta tahun lalu, situs Bisantennary adalah goa di tengah hutan hujan yang kaya keanekaragaman hayati. Ostracoda yang kecil hidup di genangan dalam goa yang yang terus diperkaya oleh kotoran ribuan kelelawar," ungkap Archer seperti dikutip Physorg, Rabu (14/5/2014).

Suzzane Hand, ahli kelelawar yang sudah punah, menuturkan, kotoran kelelawar bisa jadi juga memainkan peranan penting dalam mengawetkan sperma raksasa. Kotoran kelelawar membuat air kaya akan fosfor, memicu mineralisasi jaringan-jaringan lunak pada ostracoda.

Beragam temuan menarik dihasilkan dari ekskavasi di Riversleigh. Namun, temuan berupa sperma yang terawetkan beserta dengan inti selnya ini menurut Archer di luar dugaan dan istimewa. Riset dipublikasikan di jurnal Royal Society B.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X