Kompas.com - 09/03/2014, 19:43 WIB
Pesawat Malaysia Airlines mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (26/5/2013). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Pesawat Malaysia Airlines mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (26/5/2013).
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 hilang kontak sejak Sabtu (8/3/2014) pukul 02.40 waktu setempat. Hilang kontak terjadi kurang lebih 2 jam setelah pesawat dengan rute Kuala Lumpur-Beijing itu lepas landas pada pukul 00.41 dini hari.

Kasus hilangnya MH370 dinilai janggal. Pertama, pesawat itu terbang di ketinggian yang paling aman, sekitar 35.000 kaki. Kedua, Malaysia Airlines dinilai sebagai operator penerbangan yang baik. Ketiga, Boeing 777-200 adalah pesawat dengan dukungan keselamatan terbaik saat ini.

Bagaimana MH370 bisa hilang? Itu masih misteri. Namun, hilangnya pesawat dan kemungkinan jatuhnya pesawat, seperti pada MH370, ternyata bukan pertama kali terjadi. Kasus serupa pernah menimpa maskapai negara lain, termasuk Indonesia.

"Sebenarnya ada kasus yang mirip dengan hilangnya Malaysia Airlines ini, yaitu Air France (AF447) yang jatuh di Atlantik dan Adam Air (DHI 574) yang jatuh di Perairan Majene," ujar pengamat penerbangan, Dudi Sudibyo.

"Pesawat tiba-tiba hilang kontak kurang lebih dua jam setelah lepas landas dan saat terbang di ketinggian yang sebenarnya paling aman," ungkap Dudi saat dihubungi oleh Kompas.com, Minggu (9/3/2014).

Dalam kasus Adam Air, pesawat lepas landas pada 1 Januari 2007 pukul 12.55 WIB dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju Bandara Sam Ratulangi, Manado. Namun, pesawat kemudian hilang kontak sejak pukul 15.05 Wita.

Pada kasus Air France, pesawat berangkat dari Bandara Rio de Janeiro-Galeao pada 31 Mei 2009 pada pukul 22.29 UTC menuju Bandara Charles de Gaulle, Paris. Seharusnya, pesawat itu tiba 10 jam 34 menit setelah penerbangan. Namun, 3 jam 6 menit setelah lepas landas, pesawat hilang kontak.

Dalam kasus Adam Air dan Air France, yang terjadi ternyata adalah kecelakaan pesawat. Kedua pesawat itu jatuh di lautan. Dalam kasus Malaysia Airlines, kecelakaan hingga jatuh ke laut masih dianggap sebagai skenario terburuk dari kasus hilang kontak ini.

Menurut Dudi, ada dua kemungkinan pesawat bisa hilang kontak pada ketinggian yang paling aman. Pertama adalah masalah teknis yang sulit atau tidak segera dikendalikan pilot. Kedua adalah sabotase, yang dalam kasus Malaysia Airlines dikaitkan dengan terorisme.

"Kalau pada Adam Air, seperti yang kita ketahui yang terjadi adalah masalah teknis," kata Dudi. Bagian pesawat yang disebut internal reference system (IRS) rusak. Bagian ini seharusnya diganti oleh manajemen maskapai, namun hal itu tidak dilakukan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Kita
Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Oh Begitu
6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

Kita
Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Oh Begitu
Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Fenomena
Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Oh Begitu
Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Oh Begitu
Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Kita
[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Oh Begitu
Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Kita
Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Kita
Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Fenomena
NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.