Kompas.com - 05/03/2014, 23:12 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Antartika adalah salah satu lingkungan yang paling murni di Bumi, tetapi kini bergulat dengan pencemaran. Ironisnya, orang-orang yang bekerja paling keras untuk melindungi benua itulah yang bertanggung jawab atas pencemaran tersebut.

Di Antartika, air limbah berasal dari puluhan stasiun penelitian. Stasiun tersebut merupakan perumahan yang dihuni 5.000 orang pada satu waktu. Sebagian besar dari mereka adalah ilmuwan. Stasiun penelitian itu melepaskan zat kimia jahat ke lingkungan. Zat tersebut mencemari penguin dan hewan liar lainnya.

Yang terbaru adalah zat yang memperlambat kobaran api (flame retardant) yang disebut Hexabromocyclododecane atau HBCD. Zat beracun itu biasanya digunakan dalam isolasi, bahan bangunan, termoplastik, dan peralatan penelitian, termasuk komputer.

Da Chen, seorang ahli pencemaran lingkungan dari Southern Illinois University, dan beberapa rekan ilmuwan kelautan, baru-baru ini menguji tentang HBCD di stasiun penelitian AS, McMurdo, di ujung selatan Ross Island, dan di sebuah pangkalan Selandia Baru terdekat. Penelitian menggunakan sampel dari debu dan lumpur limbah.

Para ilmuwan juga menguji jaringan satwa liar serta endapan dari daerah air limbah dari dua stasiun, yakni air yang mengandung limbah, bahan organik dan anorganik, racun, lumpur, patogen, obat-obatan yang tumpah ke McMurdo Sound.

HBCD didapati di tiap tempat yang dapat dilihat para ilmuwan. Mereka ada dalam debu dari stasiun, endapan, dan dalam jaringan hewan, antara lain penguin Adelie, ikan, sampai ke spons dan cacing laut.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila sedimen yang terdekat dengan sumber air limbah memiliki cemaran HBCD tertinggi. Namun, apa yang tak terduga adalah tingginya tingkat pencemaran tersebut menyaingi level yang biasanya bisa didapati di beberapa sungai yang berada di sekitar daerah paling padat penduduk di AS dan Eropa.

Para ilmuwan melaporkan temuan mereka di pertemuan the Society of Environmental Toxicology and Chemistry pada akhir 2013. Namun, mereka sebenarnya sudah mendapat liputan kecil terkait hal ini di media.

Meskipun banyak yang yakin bahwa sejumlah penguin dan hewan Antartika lainnya dapat menahan paparan HBCD, paparan kimia pada hewan pengerat dan ikan telah terbukti mengganggu hormon tiroid makhluk-makhluk tersebut. Hal itu memengaruhi pencernaan dan perkembangan otak.

Tingkat pencemaran yang ditemukan pada hewan, dalam studi baru-baru ini, tampaknya tidak menyebabkan masalah. Meski demikian, beberapa ilmuwan tetap prihatin.

"Kami menduga kondisi iklim yang dingin dapat mencegah tingkat pencemaran HBCD menurun," kata Chen. Dengan demikian, bahan kimia dapat berlama-lama menghadirkan ancaman lingkungan yang berkelanjutan.

Andrea Kavanagh, yang memimpin program Pew Charitable Trust-Konservasi Penguin Global, mengatakan, mungkin terlalu dini untuk menilai jumlah korban bahan kimia ini pada satwa liar karena tubuh punya cara bertindak.

"Isolator api khususnya disimpan dalam jaringan lemak, dan terjadi bioakumulasi," katanya. "Ini berarti bahwa bahan kimia terus ada dan terus membangun di dalam tubuh, lebih cepat dari usaha untuk menghilangkannya atau ketika rusak."

Kavanagh mengatakan, penelitian sebelumnya telah menemukan zat yang memperlambat kobaran api lainnya. Zat yang kini sudah dilarang itu berupa senyawa bromin, yang digunakan dalam pelapis elektronik dan furnitur. Zat tersebut ditemukan pada satwa liar yang tinggal di dekat aliran air limbah Stasiun McMurdo.

"Belum ada aturan baku untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi lagi," katanya.

Ilmuwan dan wisatawan

Lebih dari 30 negara mempertahankan sekitar 70 stasiun penelitian di Antartika. Stasiun itu merupakan perumahan yang dihuni 1.000 sampai 5.000 penduduk. Selain itu, wisatawan juga mengunjungi stasiun penelitian.

Tiap-tiap stasiun menggunakan metode yang bervariasi dalam pengolahan air limbah. Namun, ada beberapa stasiun yang tidak melakukan pengolahan sama sekali. Banyak yang menggunakan proses dasar yang dikenal sebagai maceration. Salah satunya untuk memecah endapan besar (seperti kotoran manusia) supaya menjadi potongan-potongan kecil yang dapat dipompa keluar. Namun, mereka tidak melakukan apa pun untuk menghilangkan bahan kimianya.

Beberapa stasiun telah menerapkan sistem yang lebih baik dalam satu dekade terakhir. Walau demikian, upaya mereka lebih terfokus pada membunuh mikroorganisme daripada membersihkan bahan kimia. Sementara itu, masih sedikit yang diketahui tentang berapa lama hal-hal seperti obat-obatan dan produk perawatan pribadi menetap atau bagaimana mereka mempengaruhi satwa liar.

"Kebanyakan orang, termasuk sejumlah ilmuwan, percaya bahwa pencemar dari belahan Bumi selatan adalah sumber pencemaran utama untuk Antartika," kata Chen. "Pencemaran dari sumber lokal sangat diabaikan." (Jennifer S. Holland/National Geographic Indonesia)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.