Kompas.com - 11/02/2014, 15:49 WIB
Nelayan di Kendal tidak melaut karena cuaca buruk. Kompas.com/ Slamet PriyatinNelayan di Kendal tidak melaut karena cuaca buruk.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara (PLTU) Batang mengancam kawasan perairan yang kini menjadi pertahanan terakhir bagi ekonomi nelayan pantai utara Jawa (Pantura).

Arif Fiyanto, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, mengungkapkan bahwa PLTU Batang yang akan dibangun di wilayah seluas 226 hektar berpotensi merusak lingkungan laut serta merugikan nelayan secara ekonomi dan kesehatan.

Arif menuturkan, PLTU Batang yang akan dibangun atas kerjasama Bank Jepang untuk Kerjasama International (JBIC) dan Bank Dunia memakai teknologi ultra-critical plant untuk membangkitkan listrik.

"Oleh Jepang, teknologi ini diklaim ramah lingkungan. Tetapi sebenarnya, ini hanya lebih efisien. Kalau dengan teknologi lain, untuk membangkitkan 1 MW listrik butuh 1 ton batubara, dengan ini hanya 600 kg. Sementara, limbahnya tetap," kata Arif.

PLTU bisa melepaskan limbah berupa merkuri dan asap dengan partikel debu. Sebanyak 0,907 gram merkuri bisa membuat ikan di wilayah seluas 100 meter persegi tak dapat dimakan. Sedangkan asap berpotensi memicu masalah kesehatan.

Dalam kasus pembangunan PLTU Batang, jumlah merkuri yang bisa dilepaskan diperkirakan sebanyak 226 kg per tahun. Jumlah tersebut bisa memicu bencana perikanan di Batang serta merusak pesisir Ujungnegoro Roban yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Masalah kesehatan, berdasarkan studi Greenpeace, terbukti dialami oleh warga di sekitar PLTU Cilacap. "Banyak warga menderita gangguan kesehatan dari infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) sampai black lung yang biasanya dialami pekerja tambang," kata Arif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dampak ekonomi pembangunan PLTU bagi nelayan juga telah ditunjukkan dalam kasus PLTU Cirebon. Arif mengungkapkan, nelayan Direbon harus mengeluarkan uang lebih banyak dan berlayar lebih jauh untuk mendapatkan ikan dalam jumlah cukup.

"Sebelum ada PLTU, dengan 1 liter BBM, nelayan bisa mendapatkan ikan dalam jumlah cukup. Setelah ada PLTU, dengan BBM 10 liter, nelayan di Cirebon belum tentu bisa dapat ikan. Mereka juga harus lebih jauh," ungkap Arif.

Selamet Daroyni, Koordinator Pendidikan dan Penguatan Jaringan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), mengatakan, banyak kawasan penangkapan ikan Pantura telah rusak. 'Batang adalah tempat aman terakhir bagi nelayan,' katanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.