Anak Gemuk, Jangan Salahkan Faktor Keturunan!

Kompas.com - 09/02/2014, 17:35 WIB
Shutterstock Ilustrasi anak gemuk


KOMPAS.com — Satu minggu yang lalu, waktu sarapan pagi, saya lihat seorang Ibu dan anaknya sedang asyik menikmati sarapan di suatu hotel di Pekanbaru. Bermacam makanan tampak menumpuk dalam beberapa piring di atas mejanya. Ada nasi goreng dengan aneka ragam lauk di piringnya. Bubur ayam dan sup jagung makaroni terisi penuh di tiap-tiap mangkoknya. Dua potong omelet juga masih utuh di tempatnya.

Saya lihat juga di mangkok lain, ketupat gulai dan bubur kampiun yang menjadi makanan favorit di hotel itu. Penganan ringan seperti donat, kue, dan roti tampak tak ketinggalan. Yang tidak ada dari menu pagi itu di atas mejanya adalah sayuran dan buah-buahan.

Lalu, saya tertarik memperhatikan ibu dan anak ini, tidak hanya karena tumpukan makanan di atas mejanya. Sebagian besar dari kita toh juga sering berperilaku sama, apalagi jika momen makan itu kita anggap sebagai suatu kesempatan.  Saat pesta perkawinan, ulang tahun, syukuran, dan hari raya, kita akan makan seperti itu, bahkan tidak jarang di rumah sendiri. Namun, melihat anaknya yang gemuk, tidak jauh beda dengan ibunya, menjadi alasan lain bagi saya untuk memperhatikan mereka.

"Berapa umur anak Ibu?" tanya saya memulai pembicaraan dengan ibu yang duduknya tidak jauh dari meja saya.

"Belum 5 tahun, Pak," jawabnya.

"Belum 5 tahun?" tanya saya kembali, karena saya tidak yakin melihat penampilan fisik anaknya.

"Ya, Pak, memang anak saya kelihatan bongsor."

"Berapa berat badannya?"

"Nggak tahu pastinya, barangkali sekitar 30-an kilo, Pak," ungkapnya.

"Adik atau kakaknya juga seperti dia?"

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


EditorAsep Candra
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X