Kompas.com - 24/01/2014, 10:32 WIB
Wilayah Jabodetabek yang dibangun (iarsir merah) sejak 1972 hingga 2005 terus meluas. Jan SopaheluwakanWilayah Jabodetabek yang dibangun (iarsir merah) sejak 1972 hingga 2005 terus meluas.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com
— Kepada kaum urban yang bekerja di Jakarta, tinggallah di kota, jangan di pinggiran Jakarta. Kepada industri properti, jangan lakukan ekspansi pembangunan perumahan terus ke pinggiran.

Jan Sopaheluwakan, peneliti Pusat Penelitian Geologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengungkapkan, salah satu sebab banjir Jakarta semakin parah ialah fenomena urban sprawl atau ekspansi pembangunan terus ke pinggiran.

"Ada sindroma keberlimpahan. Kita merasa masih punya lahan," kata Jan dalam konferensi pers "Skenario Mengatasi Banjir Jakarta" yang diselenggarakan LIPI di Jakarta, Kamis (23/1/2014).

Jan mengatakan, pada tahun 1972, jumlah wilayah yang dibangun atau dihuni di Jakarta lebih sedikit. Makin lama, pembangunan kawasan hunian makin ke pinggir. Tahun 2005, pembangunan hebat sudah mencapai kawasan Bogor, Depok, Cibinong, dan terus meminggir.

"Perluasan pembangunan ini seperti mengikuti pembangunan jalan tol," kata Jan. "Seperti ada kerja sama antara industri properti dan otomotif," imbuhnya.

Dampak dari perluasan pembangunan, antara lain, berkurangnya tutupan lahan di Bogor dan Puncak. Tutupan hutan di DAS Ciliwung, misalnya, berkurang luasnya dari 9,4 persen pada tahun 2000 menjadi 2,3 persen pada tahun 2010.

Berkurangnya luas tutupan hutan menimbulkan masalah karena wilayah pinggiran Jakarta sebenarnya berfungsi sebagai area serapan air.

Dengan banyak pembangunan, termasuk perumahan, area serapan menjadi berkurang. Ketika hujan tiba, sebagian besar air hujan mengalir lewat permukaan. Akhirnya, dengan curah hujan yang lebih sedikit dari seharusnya, Jakarta bisa banjir.

Tercatat, banjir Jakarta terus meluas. Dari 87,7 kilometer persegi pada tahun 2002 menjadi 231,8 kilometer persegi pada tahun 2007.

Pembangunan kawasan pinggiran yang berdampak pada berkurangnya area serapan juga mengganggu keseimbangan air tanah, padahal kebutuhan makin meningkat. Di Jakarta, air terus diambil sehingga berkontribusi pada penurunan daratan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.