Sodetan Ciliwung Bukan Obat Mujarab Banjir

Kompas.com - 23/01/2014, 14:20 WIB
Air mengalir perlahan menjelang malam di Kanal Timur di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Senin (28/1/2013). Untuk mengurangi banjir di Jakarta, sodetan akan dilakukan dengan memotong sebagian Kali Ciliwung supaya sebagian aliran airnya masuk ke Kanal Timur melalui pipa bawah tanah melewati Jalan Sensus, Jalan Otista III, sampai memotong Jalan Tol Cawang dan masuk ke Kanal Timur. Menurut rencana, panjang sodetan 2,15 kilometer dengan dua pipa berdiameter 4 meter. KOMPAS/AGUS SUSANTOAir mengalir perlahan menjelang malam di Kanal Timur di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Senin (28/1/2013). Untuk mengurangi banjir di Jakarta, sodetan akan dilakukan dengan memotong sebagian Kali Ciliwung supaya sebagian aliran airnya masuk ke Kanal Timur melalui pipa bawah tanah melewati Jalan Sensus, Jalan Otista III, sampai memotong Jalan Tol Cawang dan masuk ke Kanal Timur. Menurut rencana, panjang sodetan 2,15 kilometer dengan dua pipa berdiameter 4 meter.
|
EditorTri Wahono


KOMPAS.com
- Upaya menyodet Ciliwung memang bisa menjadi solusi praktis menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Namun, dalam jangka panjang, jangan diharapkan upaya itu menjadi obat mujarab.

Peneliti senior Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Jan Sopaheluwakan, mengungkapkan, sodetan Ciliwung sebenarnya cuma upaya mempercepat aliran sungai ke laut.

Menurut Jan, upaya tersebut jika menjadi satu-satunya andalan malah akan menimbulkan permasalahan dalam jangka panjang.

"Karena kita sebenarnya juga butuh air untuk musim kemarau. Jadi kita juga harus bisa menyimpan," katanya.

Selain itu, dalam konferensi pers "Skenario Mengatasi Banjir Jakarta" yang digelar LIPI, Kamis (23/1/2014), Jan juga mengungakpkan bahwa solusi itu baru menyelesaikan permasalaham Ciliwung, belum 12 sungai lain.

Jan menuturkan, upaya yang harus dilakukan adalah menyediakan ruang hijau dan biru yang cukup di Jakarta.

"Wilayah Gambir ke utara itu harus lebih banyak ruang biru yang menampung air. Wilayah selatan harus lebih banyak ruang hijau untuk serapan," jelasnya.

Penyediaan ruang hijau dan biru di Jakarta bukan hal yang mustahil. Singapura memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi dari Jakarta, sekitar 400 per hektar, tetapi masih punya ruang untuk kebutuhan apa saja.

Jan mengatakan, masalah banjir Jakarta muncul karena warga merasa cukup, abai pada lingkungan dan bencana. "Kita punya sindrom katak rebus," tutur Jan.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X